KEEFEKTIFAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPA DI SMP NEGERI KABUPATEN TEMANGGUNG


Dyas Ayu Nur Anggraeni, S.Si.

(Guru SMP Negeri 2 Selopampang)

 

Abstrak

 

Penentuan keefektifan suatu pembelajaran dilihat dari seberapa besar tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan pada awal pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi yang menggunakan model Discrepancy Evaluation atau evaluasi kesenjangan yang membandingkan antara tujuan atau standar dengan hasil pelaksanaan yang sesungguhnya. Sumber data penelitian adalah Guru IPA, Kepala Urusan Kurikulum, serta Kepala sekolah yang berada di lingkungan Kabupaten Temanggung. Pengumpulan data primer menggunakan instrumen observasi sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumentasi dan wawancara. Data hasil observasi yang diperoleh kemudian dianalisis secara kuantitatif sedangkan data hasil dokumentasi dan wawancara dianalisis secara deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan pembelajaran yang meliputi persyaratan pelaksanaan pembelajaran dan kegiatan pembelajaran dinyatakan cukup efektif.

Kata kunci : Keefektifan Pelaksanaan Pembelajaran, Prasyarat Pelaksanaan Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran

Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif (Mustakim: 2008).  Pemerintah Indonesia menyadari pentingnya pendidikan ini untuk pembentukan karakter generasi penerus bangsa yang berkualitas dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, upaya perbaikan terus dilakukan pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan terutama dalam bidang pembelajaran di sekolah.

Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia dapat dilihat pada jenjang pendidikan dasar.  Survei The Third International Mathematics and Science Study Repeat menunjukkan bahwa mutu pendidikan dasar Indonesia untuk bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) hanya mampu menempati peringkat ke 32 dari 38 negara yang di survei di Asia, Afrika, dan Australia (Moh Yamin, 2007). Padahal pendidikan IPA atau Sains, berperan penting dalam keseluruhan proses pendidikan. Pendidikan IPA pada tingkat dasar akan memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi keseluruhan proses pendidikan anak dan perkembangan individu selanjutnya. Dalam batas-batas tertentu, pendidikan IPA dapat mempersiapkan individu untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Hal ini dimungkinkan karena dalam pendidikan IPA siswa dibimbing untuk berpikir kritis, memecahkan masalah-masalah, dan membuat keputusan-keputusan yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya menuju masyarakat dan warga negara yang terpelajar secara keilmuan.

Pesatnya perkembangan IPA dan teknologi saat sekarang ini mengakibatkan diperlukan sebuah cara pembelajaran yang dapat mempersiapkan siswa untuk melek IPA dan teknologi, mampu berpikir logis, kritis, kreatif, dan dapat berargumen secara benar (Trianto, 2010:155). Inovasi dalam proses pembelajaran IPA melibatkan kreatifitas dalam menyediakan alat dan bahan, penggunaan metode pembelajaran dan penggunaan media pembelajaran. Dengan menggunakan alat, bahan, metode serta media yang baik dan sesuai dengan karakteristik siswa maka akan mempermudah transfer pengetahuan oleh guru.

Kegiatan pembelajaran IPA mencakup pengembangan kemampuan dalam mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, memahami jawaban, menyempurnakan jawaban tentang “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana” tentang gejala alam maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis yang akan diterapkan dalam lingkungan dan teknologi.  Kegiatan tersebut dikenal dengan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode ilmiah.  Metode ilmiah dalam mempelajari IPA itu sendiri telah diperkenalkan sejak abad ke-16 (Galileo Galilei dan Francis Bacon) yang meliputi mengidentifikasi masalah, menyusun hipotesa, memprediksi konsekuensi dari hipotesis, melakukan eksperimen untuk menguji prediksi, dan merumuskan hukum umum yang sederhana yang diorganisasikan dari hipotesis, prediksi, dan eksperimen (Pusat Kurikulum, 2006).

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan memungkinkan guru untuk membuat sebuah rancangan pembelajaran yang diinginkan, dari mulai merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan hingga evaluasi pembelajaran. Dalam kenyataan sebenarnya, masih banyak guru yang menggunakan pola lama yaitu hanya mengerjakan apa yang sudah rutin dilakukan tanpa membuat perencanaan yang matang. Perencanaan pembelajaran guru yang harus dipersiapkan sebelum pembelajaran adalah program tahunan, program semester, silabus, RPP, dan daftar nilai. Perencanaan yang matang akan mempermudah proses pengorganisasian pembelajaran yang berupa penentuan alat dan bahan, metode serta media pembelajaran.

Dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, pemerintah memberikan kesempatan kepada guru dan kepala sekolah untuk melakukan improvisasi terhadap kurikulum yang diterapkan. Kondisi, karakteristik dan kemampuan peserta didik merupakan beberapa parameter yang bisa digunakan sebagai acuan pembentukan sebuah kurikulum di satuan pendidikan tertentu. Namun demikian, semua KTSP yang telah dibentuk oleh masing-masing sekolah dan daerah itu harus memiliki tujuan yang sama, yakni tujuan yang telah ada pada Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Menurut Trianto (2009: 154), Pengalaman belajar yang diperoleh siswa tidak utuh dan tidak berorientasi pada tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pembelajaran lebih bersifat teacher centered, guru hanya menyampaikan IPA sebagai produk dan siswa menghafal informasi faktual. Dalam hal ini siswa hanya mempelajari IPA dalam domain terendah sehingga siswa tidak dapat mengembangan potensi berpikirnya.

Perbaikan kualitas pembelajaran dapat diawali dengan perbaikan desain pembelajaran, perencanaan pembelajaran dapat dijadikan titik awal dari upaya perbaikan kualitas pembelajaran (Hamzah BU, 2009:4). Perencanaan pembelajaran yang berupa pembuatan silabus, program tahunan, program semester, RPP, perencanaan penilaian, dan kriteria KKM merupakan hal dasar yang harus dipersiapkan guru untuk memperoleh proses pembelajaran yang berkualitas. Pada kenyataannya masih banyak guru yang tidak mempersiapkan perencanaan pembelajaran ini secara baik sehingga pembelajaran yang dihasilkan kurang maksimal.

Dalam Permendiknas No.41 tahun 2007 tentang Standar Proses telah tertuang ketentuan pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan guru dalam kelas. Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. Pelaksanaan Pembelajaran meliputi kegiatan Pendahuluan, Kegiatan inti dan Kegiatan penutup. Pendahuluan meliputi proses menyiapkan peserta didik, memberikan motivasi, tujuan dan cakupan materi yang akan disampaikan. Kegiatan inti mencakup eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Sedangkan kegiatan penutup meliputi penilaian, pemberian umpan balik serta pemberian tugas kepada siswa.

Secara umum, keefektifan berorientasi pada tujuan. Tujuan yang dicapai menjadi indikator bahwa suatu kegiatan adalah efektif. Daft (1991:11) menjelaskan arti keefektifan (effectiveness) sebagai berikut “Effectiveness is the degree of which the organization achiever a stated objective” yang berarti bahwa keefektifan adalah tingkatan dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jika sasaran atau tujuan tidak sesuai dengan yang telah direncanakan berarti pekerjaannya tidak efektif.

Selanjutnya pendapat lain disampaikan oleh Dick dan Reiser (1996:3) ”effective instruction is instruction that enables students to acquire specified skill, knowledge, and attitudes”. Pernyataan tersebut mempunyai maksud bahwa pembelajaran dapat dikatakan efektif apabila dalam pembelajaran tersebut terjadi perubahan-perubahan dalam diri siswa pada tiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotoris.

Dalam melakukan pembelajaran yang efektif seorang guru harus mempunyai kemampuan-kemampuan dasar dalam mengelola sebuah pembelajaran dalam kelas. Peran seorang guru dalam pembelajaran di kelas sangatlah penting karena guru merupakan satu-satunya komponen dalam kelas yang mampu merubah unsur-unsur lain menjadi lebih bervariasi. Kemampuan guru ini secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu: kemampuan mempersiapkan pembelajaran, kemampuan melaksanakan pembelajaran dan kemampuan mengevaluasi/ menilai.

Menyadari permasalahan yang terjadi pada dunia pendidikan dan betapa pentingnya pendidikan IPA tersebut, telah banyak usaha yang dilakukan pemerintah dan praktisi pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan IPA pada jenjang pendidikan dasar, antara lain dengan melakukan penyempurnaan kurikulum, peningkatan kualitas kemampuan guru, penyediaan dan pembaruan buku ajar, penambahan sarana dan fasilitas seperti laboratorium IPA, perbaikan sistem pembelajaran, peningkatan jenjang pendidikan para guru, dan pengembangan pendekatan yang lebih relevan dan efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Permasalahan yang dapat dipetakan dari latar belakang di atas bisa terbagi dalam beberapa hal, yaitu kurang mendetailnya perencanaan pembelajaran sebagai prasyarat pembelajaran yang dibuat oleh guru pada awal pembelajaran atau awal semester. Kurang cermatnya perencanaan pembelajaran oleh guru ini akan menimbulkan pelaksanaan kegiatan pembelajaran menjadi tidak terarah secara baik, selanjutnya tujuan pembelajaran akan sulit untuk tercapai. Pemanfaatan laboratorium dan lingkungan sekitar juga merupakan faktor penentu dalam meraih keberhasilan pembelajaran terutama dalam upaya meningkatkan kemampuan skill siswa dalam bidang IPA, sehingga apabila pemanfaatannya tidak maksimal maka akan berimbas pada ketidak berhasilan pembelajaran IPA.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan seberapa besar tingkat keefektifan pelaksanaan pembelajaran yang terdiri atas penyiapan persyaratan pembelajaran dan kegiatan pembelajaran itu sendiri. Tingkat keefektifan ini dilihat dari segi pelaksanaan yang diamati di lapangan dan dibandingkan dengan standar pembelajaran yang telah tercantum  pada standar proses.

SMP  Negeri yang menjadi objek penelitian terdiri atas empat sekolah yang tersebar Kabupaten Temanggung. Dari keempat SMP Negeri tersebut terdapat empat guru IPA yang mengampu kelas VIII, satu orang guru laki-laki dan guru perempuan tiga orang. Semua guru subjek telah berstatus Pegawai Negeri Sipil dan mempunyai latar belakang Pendidikan Fisika dan Pendidikan Biologi.

Pengalaman mengajar guru bervariasi, minimum enam tahun dan maksimum 26 tahun dan mempunyai pengalaman mengikuti pelatihan/penataran yang berkaitan dengan  materi pembelajaran, silabus, dan sistem penilaian IPA hampir sama selama dua tahun terakhir. Semua guru subjek mengikuti penataran yang dilaksanakan oleh MGMP tentang materi pembelajaran, penilaian pembelajaran serta penelitian tindakan kelas. Sedangkan hanya satu subjek guru yang mengikuti workshop perencanaan pembelajaran yang dilaksanakan pengawas SMP Kabupaten Temanggung.

Data utama yang dipergunakan untuk menentukan kesenjangan yang terjadi antara standard dan performance di lapangan adalah data yang diperoleh dari observasi. Observasi dilakukan terhadap masing-masing aspek diatas yang dibagi lagi menjadi aspek yang lebih kecil sesuai dengan yang tercantum dalam standar pembelajaran. Penentuan kategori keefektifan terhadap hasil yang diperoleh di lapangan menggunakan pedoman penskoran yang telah dibuat sebelumnya.

Data yang diambil menggunakan metode observasi dan dokumentasi dianalisis menggunakan teknik deskriptif. Selanjutnya hasil rerata nilai data observasi dikategorisasikan dengan menggunakan modifikasi dari Eko Putro Widiyoko (2009) dan diperoleh hasil seperti pada Tabel 1 berikut ini:

Tabel 1

Kriteria penentuan skor instrumen

Rumus

Rerata skor

Klasifikasi

X > i + 1.8 x sbi

Efektif

i + 1.8 x sb<  X  ≤  i

Cukup efektif

i <  X  ≤  i – 1.8 x sbi

Kurang efektif

X <  i – 1.8 x sb

Tidak efektif

Keterangan:

I      :  rerata ideal = ½ (skor maksimum ideal + skor minimum ideal)

sbi         : simpangan baku ideal = 1/6 (skor maksimum ideal – skor minimum  ideal)

X       : skor empiris

Sedangkan data yang diperoleh menggunakan metode wawancara dianalisis menggunakan model Miles and Huberman yang terdiri atas tiga tahap yaitu: data reduction, data display, dan conclusion drawing/ verification. Langkah-langkah menganalisis data dapat dilihat pada Gambar 1 berikut:

Periode pengumpulan

Reduksi data

Antisipasi                   Selama                           Setelah

Display data

Selama                           Setelah

Kesimpulan/ verifikasi

Selama                           Setelah

 

Gambar 1

Bagan analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman

          Data yang diperoleh dari lapangan kemudian di catat secara teliti dan rinci. Selanjutnya dilakukan proses reduksi data dimana data yang ada dirangkum kemudian dipilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dan dicari tema dan polanya. Setelah direduksi, data kemudian didisplaykan dalam bentuk tabel dengan tujuan agar data tersebut terorganisasi den tersusun dalam pola hubungan sehingga mudah dipahami. Tahap yang terakhir adalah kesimpulan atau verifikasi yang merupakan temuan dari lapangan yang berupa deskripsi atau gambaran tentang manajemen pembelajaran IPA yang ada di Kabupaten Temanggung.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Subyek penelitian ini adalah guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SMP Negeri di Kabupaten Temanggung Propinsi Jawa tengah pada tahun pelajaran 2009/2010. Guru  dalam penelitian ini berjumlah empat orang yang berasal dari empat SMP Negeri yang ada di Kabupaten Temanggung. Data dasar subyek penelitian guru IPA SMP Negeri di Kabupaten Temanggung dapat dilihat di Tabel 2 berikut:

Tabel 2

Daftar Sekolah dan Jumlah Guru IPA SMP Negeri di Kabupaten Temanggung

No

Sekolah

Jumlah subjek guru IPA/ latar belakang pendidikan/ status kepegawaian

Jenis kelamin

Pengalaman

Mengajar

1. SMP N 1 Temanggung

1 orang/ S.1 Pend.Fisika/ PNS

P

26 thn

2. SMP N 1 Pringsurat

1 orang/ S.1 Pend. Biologi/ PNS

L

20 thn

3. SMP N 5 Temanggung

1 orang/ S.1 Pend. Biologi/ PNS

P

17 thn

4. SMP N 2 Selopampang

1 orang/ S.1 Pend.Fisika/ PNS

P

6 thn

Standar pelaksanaan pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Standar Proses yang tercantum pada PP. 41 tahun 2007. Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. Proses pelaksanaan pembelajaran terbagi menjadi dua bagian penting, yaitu persyaratan pelaksanaan pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran itu sendiri.

Persyaratan Pelaksanaan Pembelajaran

Data persyaratan pembelajaran diperoleh dengan wawancara kepada guru, kabid kurikulum dan kepala sekolah serta didukung data dokumentasi. Persyaratan yang pertama adalah jumlah rombongan belajar, rombongan belajar adalah jumlah peserta didik yang terdapat di dalam satu kelas. Jumlah siswa setiap rombongan belajar dari sekolah subjek bervariasi antara 28-38 siswa yang berada dalam 3-6 kelas per jenjang, sedangkan standar rombongan belajar untuk SMP/MTS adalah 32 peserta didik setiap kelas. Dari data tersebut maka kesenjangan yang terjadi antara standar dan kenyataan di lapangan tidak terlalu besar namun diperlukan pengurangan atau penambahan jumlah peserta didik pada sekolah agar sesuai dengan standar baku.

Prasyarat yang kedua adalah beban kerja minimal guru. Beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan. Perencanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru meliputi pembuatan Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, program tahunan, program semester, dan distribusi alokasi waktu.

Sedangkan jumlah beban kerja guru tersebut menurut Permendiknas No.39  Tahun 2009 adalah sekurang-kurangnya 24 jam tatap muka dan paling banyak 40 jam dalam satu minggu. Semua guru subjek adalah guru PNS yang telah memperoleh sertifikasi jabatan sehingga mendapatkan prioritas untuk mengajar sekurang-kurangnya 24 jam per minggu. Menurut keterangan kepala sekolah dan kabid kurikulum, sekolah memberikan prioritas pada guru yang telah bersertifikasi untuk mengajar sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Sedangkan untuk guru yang belum memperoleh sertifikasi belum mendapatkan prioritas mengajar 24 jam per minggu, hal ini hampir terjadi pada semua sekolah subjek karena jam yang ada tidak mencukupi untuk semua guru mendapatkan 24 jam mengajar.

Buku teks yang dimiliki oleh masing-masing sekolah subjek untuk mata pelajaran IPA sudah terpenuhi dengan perhitungan satu buku per satu siswa, dengan pertimbangan mata pelajaran IPA merupakan salah satu mata pelajaran UN. Penggunaan buku paket ini bersamaan dengan LKS yang telah dipunyai siswa. Sedang untuk mata pelajaran non-UN pemenuhan kebutuhan buku ini belum sepenuhnya terpenuhi. Pengelolaan kelas dilakukan sebelum dan ketika pembelajaran berlangsung sesuai dengan metode pembelajaran yang dipakai serta disesuaikan dengan materi yang akan di bahas.

Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa persyaratan pembelajaran yang ada di sekolah dapat dikategorikan cukup efektif dengan adanya kelengkapan prasyarat jumlah rombongan belajar, beban kerja guru yang tidak terlalu berat, jumlah buku panduan yang mencukupi serta pengelolaan kelas yang lengkap dan terorganisasi dengan baik.

Proses Pelaksanaan Pembelajaran

Dari hasil observasi aspek pelaksanaan pembelajaran diperoleh data yang tercantum pada Tabel 3 berikut ini:

Tabel 3

Nilai Keefektifan Pelaksanaan Pembelajaran IPA

di SMP Negeri Kabupaten Temanggung

Komponen dan sub komponen penelitian

Rerata skor

Klasifikasi

Tidak efektif

Kurang efektif

Cukup efektif

Efektif

Pelaksanaan Pembelajaran
a. mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran

3,6

V

b. melaksanakan kegiatan pembelajaran

3,0

v

c. mengelola interaksi kelas

3,1

v

d. bersikap terbuka dan luwes serta membentuk mengembangkan sikap positif siswa terhadap belajar

3,2

v

e. Demo kemampuan khusus dalam pembelajaran mata pelajaran tertentu

3,3

v

f. melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar

3,3

v

g. kesan umum kinerja guru

3,1

v

total

3,2

 

v

Dari Tabel 3 diatas dapat dilihat bahwa dalam semua aspek pelaksanaan pembelajaran mendapat skor lebih dari 3,0. Menurut pedoman penskoran yang telah dibuat sebelumnya maka dapat ditentukan bahwa dalam aspek pelaksanaan pembelajaran ini memenuhi kriteria cukup efektif. Penjelasan secara rinci adalah sebagai berikut:

Pengelolaan ruang dan fasilitas pembelajaran

Pengelolaan ruang dan fasilitas pembelajaran terdiri atas kegiatan penyiapan media dan sumber belajar serta bagaimana melaksanakan kegiatan harian kelas. Media pembelajaran dan sumber belajar yang baik adalah yang mudah digunakan dan sesuai dengan materi yang diberikan pada peserta didik. Dari hasil pengamatan, media dan sumber belajar yang akan digunakan telah tersedia dengan baik dalam ruangan kelas dan mudah digunakan oleh siswa walaupun keberadaannya masih minimal. Salah satu guru menggunakan media pembelajaran berupa media interaktif yang berupa komputer disertai dengan media yang berasal dari lingkungan peserta didik. Sedangkan guru yang lain lebih ke pemanfaatan lingkungan sekitar untuk pembelajaran. Sumber belajar yang digunakan untuk pembelajaran yang diamati adalah buku pegangan BSE serta Buku Kerja Siswa.

Pelaksanaan tugas harian kelas meliputi pengecekan ketersediaan alat pembelajaran, kehadiran siswa, kebersihan dan kerapihan fasilitas kelas, dan kesiapan siswa menerima pelajaran. Dari hasil keseluruhan aspek ini mendapatkan kriteria efektif dengan skor 3,6 dimana semua deskriptor yang dibutuhkan telah terlihat dan terlaksana dengan baik. Demikian pula setelah di cek menggunakan data hasil dokumentasi juga menunjukkan dari semua dokumen yang ideal bisa ditunjukkan oleh subjek guru yang bersangkutan. Dokumen tersebut yakni daftar hadir siswa, agenda mengajar yang terisi dengan baik, jurnal kelas, silabus dan RPP, serta buku daftar nilai siswa.

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran

Secara umum skor kegiatan pembelajaran ini masuk dalam kategori cukup efektif. Secara ideal pelaksanaan kegiatan pembelajaran ini terdiri atas kegiatan pendahuluan; kegiatan inti yang terdiri atas tahap eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi; serta kegiatan penutup. Pengamatan observasi di lapangan dititik-beratkan pada bagaimana guru mengelola secara efisien kegiatan pembelajaran.  Secara rinci disajikan dalam  Gambar 2 di bawah ini:

Gambar 2. Keefektifan pelaksanaan kegiatan pembelajaran IPA di SMP Negeri Kabupaten Temanggung

Dari Gambar 2 diatas, dapat dilihat bahwa penggunaan alat bantu (media) pembelajaran masuk dalam kategori efektif dimana media yang digunakan telah disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, siswa, situasi dan lingkungan. Sedangkan aspek pengelolaan waktu guru subjek terlihat kurang efisien karena tidak sesuai dengan rencana pembagian waktu di Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

Pada waktu pelaksanaan observasi rata-rata guru subjek memulai pembelajaran dengan menyampaikan pertanyaan motivasi kepada siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengaitkan materi yang akan disampaikan dengan pengalaman siswa. Jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa juga menunjukkan tingkat kesesuaian dengan tujuan pembelajaran yang dicapai, kebutuhan siswa dan memanfaatkan lingkungan di sekitarnya. Hambatan dalam aspek ini menurut keterangan dari beberapa guru subjek terletak pada pengarahan perhatian siswa agar terfokus pada pelajaran dan disiplin kelas yang selalu terjaga.

Penggunaan alat bantu atau media pembelajaran siswa dari hasil pengamatan, baru satu subjek guru yang memberikan pengalaman belajar berbasiskan ICT dengan menggunakan powerpoint. Sedangkan sebagian besar menggunakan metode praktikum dan kontekstual learning dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar sekolah dan mudah diperoleh siswa. Penggunaan media ini sudah sesuai dengan rencana pembelajaran yang sebelumnya telah dibuat oleh guru yang bersangkutan sehingga penyiapan media sudah dilakukan sebelum pembelajaran dilaksanakan.

Semua kegiatan pembelajaran yang diamati menggunakan metode cooperatif learning dalam kelompok kecil kemudian di presentasikan dalam kelas besar. Kekurangan dari pembelajaran yang banyak dilakukan oleh guru subjek adalah penggunaan waktu yang kurang disiplin sehingga pada kegiatan akhir yang berupa konfirmasi kepada siswa sering dilakukan secara tergesa-gesa atau tidak dilakukan karena waktu pelajaran telah selesai.

Secara keseluruhan aspek pelaksanaan kegiatan pembelajaran ini masuk dalam kategori cukup efektif mulai dari kegiatan pendahuluan, penentuan jenis kegiatan, media, dan metode telah sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Perbaikan yang perlu dilakukan oleh guru terletak pada pengelolaan waktu setiap tahap pembelajaran seperti pembagian waktu untuk eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi sehingga fungsi dari masing-masing tahap dapat tercapai secara maksimal.

Pengelolaan interaksi kelas

Interaksi yang terjadi di dalam kelas merupakan sesuatu yang paling penting untuk mencapai tujuan pembelajaran, baik interaksi antara guru dan siswa maupun interaksi antar siswa. Kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan siswa turut berpengaruh menentukan keberhasilan siswa menerima konsep yang diberikan oleh guru. Penilaian dilakukan dengan melihat reaksi siswa ketika guru memberikan penjelasan atau petunjuk yang berkaitan dengan isi pembelajaran, menangani pertanyaan siswa, memelihara keterlibatan siswa dan cara memantapkan penguasaan materi pembelajaran. Hasil observasi pengelolaan interaksi kelas disajikan dalam Gambar 3 berikut:

Gambar 3. Nilai ketercapaian aspek pengelolaan interaksi kelas oleh guru IPA di SMP Negeri Kabupaten Temanggung

Dari Gambar 3 diatas menunjukkan bahwa semua aspek pengelolaan interaksi kelas oleh guru subjek memperoleh kategori cukup efektif walaupun beberapa diantaranya masih dalam batas bawah. Sedangkan aspek penggunaan ekspresi lisan, tulisan, isyarat dan gerakan badan masuk dalam kategori efektif dimana semua guru subjek telah menunjukkan ekspresi tersebut secara baik dan tepat sasaran.

Dalam aspek pengelolaan interaksi kelas ini sebagian besar subjek guru telah melaksanakan fungsi pengelolaanya secara maksimal terutama dalam penggunaan ekspresi lisan, tulisan, isyarat dan gerakan badan. Penjelasan yang diberikan oleh guru pada awal pembelajaran juga terlihat mantab dan dimengerti oleh siswa, demikian pula dalam kegiatan penutup siswa terlihat antusias bersama-sama menyimpulkan hasil yang didapat. Interaksi yang terjadi antar siswa dalam pembelajaran juga terlihat sangat tinggi kemungkinan besar disebabkan oleh penggunaan metode kooperatif yang digunakan guru memang membuka kesempatan seluasnya pada siswa untuk berinteraksi dengan yang lain.

Pada saat diskusi kelompok, siswa terlihat antusias dan bersemangat melakukan proses pembelajaran sedangkan guru subjek mengontrol kegiatan pembelajaran dengan memberikan respon pada siswa yang bertanya atau memelihara ketertiban kelas apabila ada siwa yang tidak fokus. Hasil observasi menunjukkan bahwa pada aspek ini memperoleh skor 3,1 dan masuk dalam kategori cukup efektif apabila dibandingkan dengan standar yang telah ada. Perbaikan juga perlu dilakukan terutama dalam hal penanganan pertanyaan siswa dan memperkaya lagi gaya dan pengetahuan tentang bagaimana penanganan yang efektif untuk memfokuskan kerja siswa.

Bersikap terbuka, luwes serta membantu mengembangkan sikap positif siswa terhadap belajar

Aspek ini meliputi attitude guru di dalam kelas yang berpengaruh terhadap penerimaan siswa terhadap proses pembelajaran yang dilakukan serta pembentukan mental siswa. Dari semua guru subjek menunjukkan sikap ramah, hangat, luwes serta menunjukkan  kegairahan mengajar yang tinggi sehingga siswa terlihat ikut bersemangat mengikuti pelajaran yang disampaikan. Sistem pembelajaran yang menggunakan konsep diskusi kelompok kecil memberi kesempatan yang besar pada siswa untuk mengembangkan hubungan yang sehat dan serasi antar teman serta akan membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya. Dengan diskusi kelompok siswa terlihat saling mengisi kekurangan satu sama lain, guru berfungsi sebagai motivator sekaligus pengontrol kegiatan dan sikap siswa yang berlebihan.

Guru menumbuhkan rasa kepercayaan diri siswa dengan memberikan reward berupa pujian ketika siswa mampu memecahkan sendiri masalah yang timbul dalam kelompoknya. Usaha lain yang dilakukan guru untuk membantu tumbuhnya kepercayaan diri siswa yaitu dengan memberikan kesempatan bagi siswa untuk mempresentasikan hasil yang telah didapatnya dari diskusi kelompok. Dengan begitu siswa akan terdorong untuk berani mengemukakan pendapatnya beserta dengan alasannya dan juga akan membantu siswa menumbuhkan rasa kepemimpinan dalan diri siswa. Secara keseluruhan subjek guru yang diteliti telah melakukan proses ini dengan cukup efektif dan membantu pengembangan diri siswa.

Mendemonstrasikan kemampuan khusus dalam mata pelajaran IPA

Aspek ini meliputi metode pembelajaran yang digunakan guru, pengalaman lapangan yang dialami siswa, penerapan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari serta penguasaan konsep IPA oleh guru. Metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru biasanya bervariasi antara pembelajaran ekspositori dan pembelajaran kooperatif. Dari observasi dilapangan, kebetulan semua subjek guru menggunakan metode kooperatif learning menggunakan kelompok kecil kemudian didiskusikan secara klasikal. Menurut keterangan guru yang bersangkutan, pembelajaran model ini tidak selalu dilakukan dalam setiap jam pelajaran, sebagian besar materi masih disampaikan menggunakan metode ekspositori yang kadang-kadang diselingi dengan demonstrasi. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan dengan pembelajaran ekspositori yang interaktif dapat sedikit menghemat waktu sehingga semua materi dapat terselesaikan dengan baik.

Selain ekspositori, metode yang sering digunakan adalah praktikum baik di laboratorium maupun lapangan. Hanya saja untuk praktikum di laboratorium ini masih dilaksanakan secara terbatas untuk materi tertentu saja karena keterbatasan alat yang dipunyai oleh sekolah. Praktikum di lapangan dilakukan oleh guru pada materi yang contoh kongkretnya dapat dilihat langsung dari alam sekitarnya misalnya pengamatan jenis tumbuhan yang ada di sekitar sekolah. Pembelajaran dengan pengalaman langsung ini menurut keterangan para guru subjek memberikan pengaruh positif pada siswa dan terlihat lebih leluasa mengembangkan materi pembelajaran, hanya saja waktu yang dibutuhkan memang harus lebih panjang dan sering menggunakan jam di luar jam pelajaran.

Penerapan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari terlihat melalui pendekatan kontekstual yang dipergunakan oleh guru, biasanya bentuknya berupa tugas rumah ataupun berupa tugas portofolio. Dari proses pembelajaran yang disajikan oleh guru dapat diketahui penguasaan materi pembelajarannya telah cukup matang dan mantab, hal ini disamping karena pengalaman mengajar para guru subjek yang rata-rata diatas sepuluh tahun juga karena persiapan yang dilakukan pada awal pembelajaran telah dilakukan secara matang. Dari segi penguasaan konsep IPA ini guru subjek memperoleh skor 3.3 dan masuk dalam kategori cukup efektif jika dibandingkan dengan standar penguasaan yang tercantum pada standar isi dan standar kompetensi kelulusan.

Melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar

Penilaian pembelajaran dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu penilaian yang dilakukan di akhir pembelajaran dan penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Penilaian dalam proses pembelajaran bertujuan untuk mendapatkan balikan mengenai tingkat pencapaian tujuan selama proses pembelajaran. Selama pembelajaran berlangsung, guru subjek melakukan penilaian proses dengan cara memberikan pertanyaan tugas secara lisan dan menilai penguasaan siswa melalui kinerja yang ditunjukkan siswa.

Sedangkan penilaian pada akhir pembelajaran bertujuan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang baru saja dilewati. Dalam bagian akhir pembelajaran memberikan tugas akhir yang berupa soal kuis tentang materi yang telah diterima, bentuk penyampaian soal ini berupa pertanyaan lisan maupun tulisan yang kemudian direspon oleh siswa saat itu juga ataupun sebagai tugas rumah. Aspek penilaian pembelajaran memperoleh skor 3.3 yang masuk dalam kategori cukup efektif dengan perincian semua subjek guru telah melakukan penilaian di akhir pembelajaran dan hanya sedikit sekali yang mempraktekkan penilaian pembelajaran waktu proses pembelajaran berlangsung.

Kesan umum kinerja guru

Tingkat keberhasilan guru dalam mengelola pembelajaran dapat dilihat dari kelancaran proses pembelajaran; suasana kelas tetap terkendali walaupun ada penyesuaian terhadap keadaan siswa; serta pelaksanaan pembelajaran mengarah pada dampak pengiring misalnya terbentuk kesempatan bagi siswa untuk bekerja sama, bertanggung jawab dan bertenggang rasa. Penggunaan bahasa lisan yang lancar, jelas, mudah dimengerti serta pembatasan menggunakan bahasa daerah juga merupakan aspek yang penting dalam penilaian kinerja guru dan yang terakhir adalah penampilan guru dalam pembelajaran. Penampilan guru dalam pembelajaran ini mengacu pada penampilan guru secara keseluruhan dalam mengelola pembelajaran seperti gaya fisik, gaya mengajar dan ketegasan. Dari hasil observasi dalam aspek kesan umum ini mendapatkan skor 3,1 dan masuk dalam kategori cukup efektif.

Secara keseluruhan aspek pelaksanaan kegiatan pembelajaran ini masuk dalam kategori cukup efektif dengan beberapa kekurangan terutama dalam aspek pengelolaan waktu yang kurang disiplin sehingga waktu yang ada kurang dapat digunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan pembelajaran. Disamping itu, pelaksanaan penilaian proses juga dilaksanakan guru secara efektif untuk menjaring nilai siswa sehingga proses penilaian lebih banyak dilakukan di akhir pelajaran saja.

SIMPULAN

Pelaksanaan pembelajaran cukup efektif dilihat dari aspek persyaratan pelaksanaan pembelajaran berupa jumlah rombongan belajar, beban kerja guru, jumlah buku teks yang dimiliki sekolah serta pengelolaan kelas yang lengkap dan terorganisasi dengan baik. Sedangkan pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas dinyatakan cukup efektif dengan beberapa kekurangan yaitu pengelolaan waktu pembelajaran yang kurang maksimal untuk mancapai tujuan pembelajaran. Disamping itu, aspek pelaksanaan penilaian proses juga belum terlihat berjalan dengan lancar dan tepat pada sasaran.

SARAN

Proses pelaksanaan pembelajaran sangat ditentukan oleh keteraturan perencanaan pembelajaran baik yang dilakukan oleh guru maupun kurikulum. Penentuan jumlah rombongan belajar, beban kerja minimal guru, jumlah buku teks yang dipunyai dan pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru merupakan prasyarat penting mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu perlu diadakan sebuah kegiatan khusus sebagai upaya meningkatkan pemahaman guru terhadap proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

BSNP. (2006). Contoh/model silabus mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Badan Standar Nasional pendidikan.

Daft, R.L. (1991). Management. (2th ed.).  New York: Rinehart and Winston, Inc.

Depdiknas. (2006). Panduan pengembangan pembelajaran IPA terpadu, Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTS). Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Depdiknas. (2007). Permendiknas No. 41 Tahun 2007, tentang Standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Jakarta: Depdiknas.

Dick, W. dan Reiser, R.A. (1989). Planning effective instruction. America: Allyn and Bacon.

Dimyati dan Mudjiono. (2002). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Eko Putro Widiyoko. (2009). Evaluasi program pembelajaran, panduan praktis bagi pendidik dan calon pendidik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hamzah B. Uno. (2009). Perencanaan Pembelajaran. Cetakan keenam. Agustus 2009. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Moh. Yamin. (2007). Peringkat pendidikan turun dari 58 ke 62. http://www.JIPKendal.co.id. Didownload tanggal 25 Juli 2009.

Mustakim. (2008). Peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Bandung: LIPI.

Nana Sudjana. (2004). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Oemar Hamalik. (2007). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Sri Sulistyorini. (2007). Model pembelajaran IPA sekolah dasar dan penerapannya dalam KTSP. FIP PGSD Universitas Negeri Semarang.

Sudarsono. (1994). Penelitian evaluasi. Yogyakarta: lembaga penelitian IKIP.

Sugiyono. (2009). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. Cetakan ketujuh. CV Alfabeta.

Sumaji,  dkk. (1998). Pendidikan sains yang humanistis. Yogyakarta: Penerbit kanisius.

Syafaruddin dan Irwan Nasution. (2005). Manajemen Pembelajaran. PT Ciputat Press.

Syaiful Sagala. (2007). Konsep dan makna pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta

Trianto. (2007). Model pembelajaran terpadu dalam teori dan praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka.

2 gagasan untuk “KEEFEKTIFAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPA DI SMP NEGERI KABUPATEN TEMANGGUNG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s