EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN


a. Definisi Evaluasi
Menurut pengertian bahasa, kata evaluasi berasal dari kata Evaluation dalam bahasa Inggris yang berarti penilaian atau penaksiran. Beberapa pengertian evaluasi secara umum dikemukakan oleh banyak ahli terkemuka. Dalam ensiklopedi pendidikan (Soegarda Poerbakawatja, 1976:83) evaluasi mengandung tiga pengertian yaitu:
1. Suatu proses menetapkan nilai atau jumlah dari suatu taksiran yang sama,
2. Suatu proses untuk menetapkan kepentingan relative dari fenomena-fenomena dari jenis yang sama atas dasar suatu standart tertentu, dan
3. Perkiraan kenyataan atas dasar ukuran nilai tertentu dan dalam rangka situasi yang khusus dan tujuan–tujuan yang ingin dicapai.
Kaufmann dan Thomas (1980: 9) mengemukakan bahwa evaluasi merupakan proses yang membantu sesuatu menjadi lebih baik melalui identifikasi dan dokumentasi beberapa perbedaan hasil kegiatan masa lalu dan sekarang untuk menafsir apa yang akan dilakukan berikutnya.
Worthen dan Sanders (1981: 19) memberikan pendapat tentang definisi evaluasi “Evaluation is the determination of the worth of a thing. It includes obtaining information for use in judging the worth of a program product, procedure, or objective, or of the potential utility of alternative approaches designed to attain specified objectives”. Evaluasi merupakan penentuan nilai suatu hal, yang meliputi pengumpulan informasi yang digunakan untuk memutuskan nilai keberhasilan suatu program, produk, prosedur, tujuan, atau manfaat yang pada desain pendekatan alternative untuk mempertahankan tujuan khusus. Dari pernyataan diatas mengimplikasikan adanya standart atau kriteria tertentu yang digunakan untuk menentukan nilai (worth) serta adanya sesuatu yang dinilai. Standart yang dimaksud adalah standar keberhasilan suatu program dikatakan berhasil, dan yang dinilai adalah dampak atau hasil yang dinilai atau dicapai oleh program itu sendiri.
Evaluasi juga sering dilakukan untuk mengetahui keberhasilan atau kegagalan suatu kegiatan. Proses evaluasi suatu pelaksanaan kegiatan dapat menunjukkan informasi tentang sejauh mana kegiatan itu telah dilaksanakan atau hal-hal yang telah dicapai. Standart atau kriteria yang telah ditentukan sebelumnya dapat dijadikan acuan untuk melihat ketercapaian suatu program, kesesuaian dengan tujuan, keefektifan, keefisienan, dan hambatan yang dijumpai dalam sebuah program.
Stufflebeam dan Shinkfield (1985:159) memberikan definisi tentang evaluasi sebagai berikut:
“The process of delineating, obtaining, and providing descriptive and judgmental information about the worth and merit of some object goals, design, implementation, and impact in order to guide decision making, serve needs for accountability, and promote understanding of the involved phenomena”.
Dari pernyataan diatas dapat dipahami bahwa Stufflebeam dan Shinkfield menyatakan bahwa evaluasi adalah proses menggambarkan, mengumpulkan, menyajikan secara deskriptif dan informative tentang penentuan nilai dan manfaat tujuan dari objek, desain, implementasi, dan dampak untuk pengambilan suatu keputusan, penyajian keperluan untuk pertanggung jawaban dan mempromosikan pemahaman terhadap fenomena yang terlibat.
Sejalan dengan beberapa pendapat diatas Chabib Thoha (1996: 1) mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur untuk memperoleh kesimpulan. Sedangkan Brinkerhoff, dkk (1983: 1-6), evaluasi merupakan sebuah proses yang menentukan sejauh mana tujuan dapat tercapai. Brinkerhoff menambahkan dalam pelaksanaan evaluasi setidaknya ada 7 elemen yang harus dilakukan yaitu :
1) Fokus pada apa yang akan dievaluasi (Focusing the evaluation)
2) Memiliki rancangan evaluasi (Designing the evaluation)
3) Mengumpulkan informasi (Collecting information)
4) Menganalisis dan menginterpretasikan informasi (Analyzing and interpretion)
5) Membuat laporan (Reporty information)
6) Pengaturan/ pengelolaan evaluasi (Managing evaluation)
7) Evaluasi untuk evaluasi (Evaluaty evaluation)

Ditambahkan lagi oleh Suchman dalam Sudarsono (1994:2) bahwa dalam merumuskan evaluasi terdapat tiga elemen pokok yang harus dinyatakan yaitu: pertama, adanya intervensi yang diberikan secara sengaja terhadap program yang direncanakan. Kedua, adanya tujuan atau sasaran yang diinginkan atau diharapakan dan mempunyai nilai positif. Ketiga, adanya metode untuk menentukan taraf pencapaian tujuan sebagaimana diharapkan. Di dalam melakukan evaluasi, evaluator hendaknya tidak hanya menanyakan perubahan cara yang dipakai, tetapi juga mengapa suatu program itu berhasil dan yang lain gagal.
Apabila beberapa pendapat diatas diaplikasikan dalam konteks pendidikan maka evaluasi dapat dikatakan sebagai serangkaian upaya atau langkah-langkah strategis untuk mengambil keputusan dinamis yang ditujukan pada pembuatan standart proses pembelajaran atau pengajaran. Proses ini dapat terdiri dari: (1) mengumpulkan data dengan tepat, (2) mempertimbangkan data dengan tolok ukur tertentu, (3) membuat keputusan berdasarkan data dengan tindakan-tindakan yang relevan. Sedangkan apabila diterapkan dalam proses pembelajaran maka evaluasi bisa diartikan sebagai sebuah proses membandingkan suatu kegiatan pembelajaran di lapangan dengan rencana yang telah dibuat untuk menentukan sampai sejauh mana tujuan pembelajaran dapat tercapai.

b. Tujuan Evaluasi
Tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui pencapaian tujuan suatu hal atau program dengan langkah mengetahui keterlaksanaan kegiatan program. Untuk kegiatan pembelajaran IPA, Evaluasi pembelajaran dapat dilihat dari aspek keterlaksanaan dalam faktor siswa, guru, materi yang dipelajari, sarana belajar, pengelolaan kelas, dan lingkungan.
Dalam organisasi pendidikan kegiatan evaluasi ini sering disamaartikan dengan supervisi. Secara singkat, supervise diartikan sebagai upaya mengadakan peninjauan untuk memeberikan pembinaan maka evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi, yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian pembinaan yang tepat pula.

c. Model Evaluasi
Ada beberapa ahli evaluasi program yang dikenal sebagai penemu model evaluasi program adalah Stufflebeam, Metfessel, Michael Scriven, Stake dan Glaser. Kauffman dan Thomas membedakan model evaluasi menjadi delapan, yaitu:

1) Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tyler
Goal Oriented Evaluation merupakan model yang muncul paling awal. Objek pengamatan dari model ini adalah tujuan dari program yang sudah ditetapkan jauh sebelum program dimulai. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan, terus-menerus, memonitor seberapa jauh tujuan tersebut sudah terlaksana dalam proses pelaksanaan program.

2) Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven
Model evaluasi yang dikembangkan oleh Michael Scriven ini dapat dikatakan berlawanan dengan model yang dikembangkan oleh Tyler. Jika dalam model yang dikembangkan oleh Tyler, evaluator terus-menerus memantau tujuan, yaitu sejak awal proses terus melihat sejauh mana tujuan tersebut sudah dapat dicapai, dalam model ini justru menoleh dari tujuan. Menurut Scriven dalam melaksanakan evaluasi program evaluator tidak perlu memperhatikan apa yang menjadi tujuan program. Yang perlu diperhatikan dalam program tersebut adalah bagaimana kerjanya program, dengan jalan mengidentifikasi penampilan-penampilan yang terjadi, baik hal-hal positif (hal yang diharapkan) maupun hal-hal negatif (yang sebenarnya tidak diharapkan).
Alasan mengapa tujuan program tidak perlu diperhatikan karena ada kemungkinan evaluator terlalu rinci mengamati tiap-tiap tujuan khusus. Jika masing-masing tujuan khusus tercapai, artinya terpenuhi dalam penampilan, tetapi evaluator lupa memperhatikan seberapa jauh masing-masing penampilan tersebut mendukung penampilan akhir yang diharapkan oleh tujuan umum maka akibatnya jumlah penampilan khusus ini tidak banyak manfaatnya.

3) Formatif Sumatif Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven
Model ini pada mulanya juga dirancang oleh Scriven dalam hubungan pengembangan kurikulum. Ia menyatakan suatu kurikulum mempunyai bentuk yang siap (final). Evaluasi formatif merupakan pengumpulan data/bukti selama penyusunan dan uji coba dari kurikulum baru. Revisi atau perbaikan dilakukan berdasarkan bukti-bukti tersebut yang dikumpulkan melalui evaluasi formatif.
Dengan menggunakan evaluasi formatif, evaluator dapat melihat kekurangan dalam pelaksanaan program/kegiatan, dan dapat juga memantau proses pelaksanaan, sehingga akan dapat membantu dalam penyempurnaan dan kelengkapan product yang dikembangkan. Karena itu evaluasi formatif dapat juga disebut dengan evaluasi internal (Internal-evaluation atau Intrinsic-evaluation) karena evaluasi formatif dilakukan menyangkut isi, tujuan, prosedur/proses, sikap guru, sikap murid, fasilitas dan sebagainya.
Evaluasi formatif yang dikembangkan Scriven untuk menilai kurikulum pada prinsipnya dapat pula dimanfaatkan dan digunakan dalam evaluasi proses belajar mengajar, sebagai salah satu kegiatan dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam hal ini evaluasi dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung pada setiap satuan pelajaran. Informasi tersebut akan dapat menunjukkan kekurangan baik pada guru maupun pada murid dan komponen lainnya, sehingga informasi itu dapat digunakan sebagai bahan dalam penyempurnaan proses belajar mengajar berikutnya.
Berbeda dengan evaluasi formatif, evaluasi summatif lebih diarahkan untuk menguji efek dari komponen-komponen pendidikan/pembelajaran terhadap murid-murid, atau dapat juga dikatakan bahwa evaluasi summatif dirancang untuk mengetahui seberapa jauh kurikulum yang telah disusun sebelumnya memberikan hasil pada siswa antara lain mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Hal itu dapat dilihat pada hasil pre test dan post test, antara kelompok eksperimen dan control. Walaupun Scriven tidak mengarahkan model ini pada evaluasi dalam proses belajar mengajar, namun pelaksanaan kurikulum tidaklah dapat dipisahkan dari kegiatan pendidikan.

4) Countenance Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake
Model evaluasi yang dikembangkan oleh stake menekankan dua jenis evaluasi yaitu deskripsi dan pertimbangan serta membedakan tiga fase dalam evaluasi program yaitu:
1. Persiapan atau pendahuluan (Antecedents / context)
2. Proses / transaksi (Transactions / Process)
3. Keluaran atau hasil (Outcomes / Output)
Oleh Stake, model evaluasi ini digambarkan sebagai berikut:
Rational intens observation Standart Judgement
antecedent
transaction
outcomes

Description Matrix Judgement Matrix

Gambar 1. Evaluasi model Stake
Dalam model evaluasi tersebut ada dua matrix, yaitu description matrix dan judgement matrix. Description matrix merupakan penggambaran antara intens (goals, objectives) dan observation yaitu tujuan apa yang akan dicapai dan apa yang akan diamati pada setiap elemen evaluasi, sedangkan pada judgement matrix adalah penggambaran standart dan judgement. Dalam matrix diatas ada 12 cell, yang diawali dengan intens antecedents dan pada sel terakhir adalah outcomes.

5) CSE-UCLA Evaluation Model, menekankan pada “kapan” evaluasi dilakukan
CSE-UCLA terdiri atas dua kata yaitu CSE dan UCLA. CSE merupakan singkatan dari Center for the study of Evaluation, sedangkan UCLA adalah singkatan dari University of California in Los Angeles. Dalam model ini ada lima tahap penting yang harus dilalui, yaitu perencanaan, pengembangan, implementasi, hasil dan dampak. Fernandes mamberikan penjelasan tentang tahap evaluasi CSE-UCLA terdiri atas empat tahap yaitu 1) Needs Assesment, 2) Program planning,g 3) Formative evaluation, 4) Summative evaluation.
6) CIPP Evaluation Model, dikembangkan oleh Stufflebeam
Model ini dikembangkan oleh Daniel L. stufflebeam dan kawan-kawan. CIPP merupakan singkatan dari : Context evaluation : evaluasi terhadap konteks, Input evaluation : evaluasi terhadap masukan, Process evaluation : evaluasi terhadap proses, Product evaluation : evaluasi terhadap hasil Keempat kata yang disebutkan dalam singkatan CIPP tersebut merupakan sasaran evaluasi, yang tidak lain adalah komponen dari proses sebuah program kegiatan. Dengan kata lain, model CIPP adalah model evaluasi yang memandang program yang evaluasi sebagai sebuah sistem.
a. Evaluasi konteks
Evaluasi konteks adalah upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan, kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani dan tujuan proyek. Evaluasi konteks dimulai dengan melakukan analisis konseptual dalam mengidentifikasikan dan merumuskan domain yang akan dinilai dan kemudian diikuti dengan analisis empiris tentang aspek-aspek yang dinilai: melalui surve, tes dan sebagainya. Pada bagian berikutnya melibatkan kedua cara tersebut (analisis konseptual dan analisis empiris) dalam rangka menemukan masalah utama dalam aspek yang dinilai.
b. Evaluasi masukan
Meliputi pertimbangan tentang sumber dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan umum dan khusus. Informasi-informasi yang terkumpul selama tahap penilaian hendaknya dapat digunakan oleh pengalamam keputusan untuk menentukan sumber dan strategi didalam keterbatasan dan hambatan yang ada.
Evaluasi masukan boleh mempertimbangkan sumber tertentu apabila sumber-sumber tersebut terlalu mahal untuk dibeli atau tidak tersedia dan dipihak lain ada alternatif yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan program. Demikian juga menyangkut personil-personil yang dapat melaksanakan program dan diperhitungkan sebaga sumber. Evaluasi masukan membutuhkan evaluator yang memiliki pengetahuan luas tentang berbagai kemungkinan sumber dan strategi. Menurut Stufflebeam pertanyaan yang berkenaan dengan masukan mengarah pada pemecah masalah yang mendorong terselenggaranya program yang bersangkutan.
c. Evaluasi proses
Meliputi koleksi data penilaian yang telah ditentukan (dirancang) dan diterapkan didalam praktek (operasi). Seorang penilaian proses mungkin disebut sebagai monitor sistem pengumpul data dari pelaksanaan sehari-hari. Misalnya saja evaluator harus mencatat kedatangan (presensi) para peserta penataran yang diadakan secara sukarela. Tanpa mengetahui catatan tentang data pelaksanaan program tidaklah mungkin mengambil keputusan menentukan tindak lanjut program apabila waktu berakhir telah tiba.
Tugas lain dari penilaian proses adalah melihat catatan kejadian-kejadian yang muncul selama program berlangsung dari waktu kewaktu. Catatan-catatan semacam itu barangkali akan sangat berguna dalam menentukan kelemahan dan kekuatan atau faktor pendukung serta faktor penghambat program. Suatu program yang baik (yang pantas untuk dinilai) tentu sudah dirancang mengenai siapa yang diberi tanggung jawab dalam pembagian, apa bentuk kegiatannya, dan bila mana kegiatan tersebut sudah terlaksana. Tujuannya adalah membantu penanggung jawab pemantauan atau monitor agar lebih mudah mengetahui kelemahan-kelemahan program dari berbagai aspek untuk kemudian dapat dengan mudah melakukan remedi.
Evaluasi proses dalam model CIPP menunjukkan “apa” (what) kegiatan yang dilakukan dalam program, “siapa” (who) orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab program, “kapan” (when) kegiatan akan selesai. Dalam model CIPP, evaluasi proses diarahkan kepada seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan didalam program sudah terlaksana sesuai dengan rencana.
d. Evaluasi produk atau hasil
Penilaian yang dilakukan oleh penilai dalam mengukur keberhasilan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Pengukuran tujuan tersebut dikembangkan dan diadministrasikan. Data yang dihasilkan dan sangat berguna bagi administrator dalam menentukan apakah program diteruskan, dimodifikasi atau dihentikan.
Evaluasi hasil berfungsi membantu penanggung jawab program dalam mengambil keputusan: meneruskan, memodifikasi, atau menghentikan program. Evaluasi hasil memerlukan perbandingan antara hasil program dengan tujuan yang telah ditetapkan. Hasil yang dinilai dapat berupa skor tes, data observasi, diagam data.

7) Discrepancy Model, dikembangkan oleh Provus
Evaluasi kesenjangan program, begitu orang menyebutnya. Kesenjangan program adalah sebagai suatu keadaan antara yang diharapkan dalam rencana dengan yang dihasilkan dalam pelaksanaan program. Evaluasi kesenjangan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara standard yang sudah ditentukan dalam program dengan penampilan aktual dari program tersebut.
Langkah Langkah dalam Evaluasi Kesenjangan
Langkah-langkah atau tahap-tahap yang dilalui dalam mengevaluasi kesenjangan adalah sebagai berikut:
1. Pertama : Tahap Penyusunan Desain.
Dalam tahap ini dilakukan kegiatan
a. Merumuskan tujuan program
b. Menyiapkan murid, staf dan kelengkapan lain
c. Merumuskan standar dalam bentuk rumusan yang menunjuk pada suatu yang dapat diukur, biasa di dalam langkah ini evaluator berkonsultasi dengan pengembangan program.
2. Kedua : Tahap Penetapan Kelengkapan Program Yaitu melihat apakah kelengkapan yang tersedia sudah sesuai dengan yang diperlukan atau belum. Dalam tahap ini dilakukan kegiatan
a. Meninjau kembali penetapan standar
b. Meninjau program yang sedang berjalan
c. Meneliti kesenjangan antara yang direncanakan dengan yang sudah dicapai.
3. Ketiga : Tahap Proses (Process)
Dalam tahap ketiga dari evaluasi kesenjangan ini adalah mengadakan evaluasi, tujuan tujuan manakah yang sudah dicapai. Tahap ini juga disebut tahap “mengumpulkan data dari pelaksanaan program”.
4. Keempat : Tahap Pengukuran Tujuan (Product)
Yakni tahap mengadakan analisis data dan menetapkan tingkat output yang diperoleh. Pertanyaan yang diajukan dalam tahap ini adalah .apakah program sudah mencapai tujuan terminalnya?”
5. Kelima : Tahap Pembandingan (Programe Comparison)
Yaitu tahap membandingkan hasil yang telah dicapai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam tahap ini evaluator menuliskan semua penemuan kesenjangan untuk disajikan kepada para pengambil keputusan, agar mereka (ia) dapat memutuskan kelanjutan dari program tersebut. Kemungkinannya adalah a. Menghentikan program b. Mengganti atau merevisi c. Meneruskan d, Memodifikasi tujuannya (?)
Standar adalah: kriteria yang telah dikembangkan dan ditetapkan dengan hasil yang efektif. Penampilan adalah: sumber, prosedur, manajemen dan hasil nyata yang tampak ketika program dilaksanakan. Kunci dari evaluasi discrepancy adalah dalam hal membandingkan penampilan dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s