OBJEKTIVISME


PENDAHULUAN

Objektivisme adalah sebuah pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan -dari soal sederhana sampai dengan teori yang komplek-  mempunyai sifat dan ciri yang melampaui keyakinan dan kesadaran individu yang merancang dan memikirkannya.

Objektivisme ini dipertentangkan dengan individualisme, sehingga ada baiknya akan kita bicarakan kedua pandangan tersebut agar dapat dikonfrontasikan secara langsung.

1. INDIVIDUALISME

Dari pangkal pandangan individualis, pengetahuan dipahami sebagai seperangkat khusus keyakinan yang dianut oleh para individu dan yang ada dalam pikiran atau otak mereka. Pandangan itu sudah jelas mendapat dukungan di dalam penggunaan umum. Apabila saya berkata “ saya tahu tanggal berapa saya menuliskan paragraph ini, tetapi saudara tidak tahu” maka saya sedang menunjuk pada sesuatu yang berada di antara keyakinan-keyakinan saya, dalam suatu pemikiran yang ada di otak saya. Apabila ini diterapkan pada ilmu bisa diartikan bahwa pengetahuan itu keyakinan yang ada dalam pikiran kita. Argumen ini bisa diterima oleh para kaum individualis, akan tetapi belum tentu menerima bahwa keyakinan ini akan membentuk suatu pengetahuan ilmiah. Apabila satu keyakinan akan dipandang sebagai pengetahuan sejati, maka harus dimungkinkan menjustifikasi keyakinan itu sebagai benar atau boleh jadi benar dengan antuan pembuktian yang layak.

Pengetahuan yang dipandang dari segi individualis menimbulkan sebuah problema foundamental yang disebut dengan gerak mundur tidak terbatas, yang artinya apabila kita ingin menjustifikasi atau menentukan kebenaran sebuah keyakinan maka kita harus melihat keterangan-keterangan yang menyediakan pembuktian bahwa keyakinan itu benar. Tapi ini akan menimbulkan masalah ketika keterangan yang dihadirkan tersebut ternyata membutuhkan pembuktian-pembuktian juga sehingga masalah pembuktian ini akan terus terulang ke belakang, kecuali ditemukan cara untuk menghentikan ancaman gerak mundur tidak terbatas tersebut.

Apabila hendak menghindari problema gerak mundur tidak terbatas itu, maka yang dibutuhkan adalah suatu perangkat keterangan yang tidak memerlukan justifikasi lagi, artinya dengan minta bantuan pada keterangan yang sudah dengan sendirinya dianggap benar. Satu set keterangan semacam ini lalu membentuk suatu dasar-dasar pengetahuan, dan tiap keyakinan apapun yang ingin dijustifikasi harus ditelusuri kembali ke dasar itu.

Pandangan diatas bisa dianggap menjadi dasar timbulanya dua tradisi rival dalam teori tentang pengetahuan yaitu rasionalisme dan emprisme klasik. Yang lebih detilnya diterangkan sebagai berikut :

  1. Rasionalisme klasik

Menyatakan bahwa dasar-dasar pengetahuan yang benar dapat dicapai dengan pemikiran. Anggapan yang diungkapkan secara jernih, jelas, benar serta melewati pemikiran sehat dan renungan yang cermatdapa membentuk dasar-dasar pengetahuan.

  1. Empirisme klasik

Menyatakan bahwa dasar-dasar pengetahuan yang benar dapat dicapai dengan menggunakan penginderaan terhadap dunia nyata. Paham ini secara jelas mendukung adanya fakta empiris untuk membuktikan suatu keterangan sebagai suatu pengetahuan.

2. OBJEKTIVISME

Pengetahuan adalah sesuatu yang diprioritaskan pada ciri-ciri permasalahan atau cabang tertentu yang berada di luar fikiran atau otak individu yang keberadaannya tidak ada hubungannya dengan sikap, keyakinan atau keadaan subjektif lainnya. Titik berat kaum objektivis adalah penekanan pada sifat suatu pernyataan-pernyataan sederhana yang didalamnya mempunyai sifat tertentu, tidak perduli apakah individu tersebut menyadari atau tidak, meyakini atau tidak.

Dalam pandangan objektivis, ilmu pengetahuan yang diteorikan oleh seorang ilmuwan kadang-kadang mempunyai kaitan yang erat dengan pengetahuan yang ditemukan oleh orang lain. Bisa jadi teori-teori yang sudah ada tersebut merupakan  konstruksi dari dari sebuah pengetahuan yang lebih kompleks hingga tanpa disadari keberadaan teori-teori tersebut bisa saling mendukung satu sama lain. Kaitan-kaitan ini tidak hanya yang bersifat positif saja, kadang-kadang kaitan yang terjadi adalah kaitan yang saling mematahkan satu sama lain. Dalam dua kasus ini, saling kaitan terjadi secara objektif diantara bagian-bagian struktur itu, terlapas dari kesadaran individu terhadap saling kaitan tersebut.

Hal yang menguntungkan kaum objektivis bahwa teori ilmiah dapat atau sering mempunyai    konsekwensi-konsekwensi yang tidak dimaksudkan sebagaimana pada mulanya dan tidak disadari oleh orang yang pertama kali mengusulkan teori tersebut. Contoh : Ketika Clerk Maxwell mengembangkan teori elektromagnetik, pada awalnya hanya bertujuan memantapkan teori Faraday  tentang garis gaya. Dalam perjalanannya Maxwell merasa lebih mudah memperkenalkan ilmunya sebagai sesuatu konsep baru, yaitu tentang arus ganti. Ternyata teori ini memunculkan suatu konsekwensi yang paling dramatis yaitu sebenarnya meramalkan satu fenomena baru, yakni gelombang radio yang dapat dihasilkan dengan menggetarkan sumber listrik. Konsekwensi ini tidak disadari oleh Maxwell dan baru ditemukan oleh ilmuan lain dua tahun setelah Maxwell meninggal dunia.

Salah satu bukti tentang keobjektifan sebuah problema yang sama sekali tidak dipengaruhi oleh keyakinan masih bisa dilihat dari kelanjutan contoh diatas. Ketika kaum pendukung maxwellian seperti Oliver lodge dan Joseph larmor berkutat dengan usaha merencanakan sebuah model ether untuk mendukung teori pemerosotan elektromagnetik ke mekanika ether, ilmuwan lain yang berasal dari eropa dan jerman malah menemukan bahwa teori Maxwell ini dapat dikembangkan pada situasi baru dengan mengabaikan sifat ether mekanis. Tokoh terkenalnya adalah Lorent dan Hertz, mereka memusatkan penyelidikan pada sifat-sifat medan sebagaimana diinterelasikan dengan hukum persamaan Maxwell yang ternyata sangat berhasil dan akhirnya menuntun ke teori istimewa Einstein tentang relativitas.

Dari contoh diatas bisa kita lihat bahwa situasi-situasi suatu problema sebenarnya exist atau secara alami memang sudah ada di dalam struktur teoretis suatu ilmu, tidak perduli apakah dia dihargai atau dimanfaatkan oleh para ilmuan atau tidak. Sedangkan apabila mengejar pertanyaan tentang status suatu teori atau program riset, terutama dalam penyikapan secara objektiv penemuan yang terjadi secara bersamaan maka kaum objektivis akan memusatkan perhatian pada segi-segi penting teori atau program itu daripada kepercayaan, perasaan keyakinan, atau sikap-sikap lain dari pada individu atau atau group yang menanganinya.

3. ILMU SEBAGAI  PRAKTEK SOSIAL

Ilmu dipandang bukan hanya merupakan teori yang dinyatakan secara eksplisit atau hanya dalil-dalil matematika saja, tetapi lebih dari itu Ilmu juga harus mempunyai aspek Praktek. Satu karakterisasi objektif yang lengkap tentang ilmu akan meliputi juga karakterisasi tentang keterampilan dan teknik yang terlibat didalamnya. Dalam ilmu fisika ada istilah praktek eksperimen yang diperkenalakan oleh Galileo. Praktek eksperimen diartikan sebagai suatu situasi artifisial yang dibangun untuk tujuan menjajagi atau menguji suatu teori. Pertama kali diperkenalkan oleh Galileo. Perincian teknik-teknik dalam eksperimen selalu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan ilmu itu sendiri. Untuk menghasilkan Pengetahuan Ilmiah, Keyakinan si pengeksperimen tidak berpengaruh terhadap reliabilitas hasil yang diciptakan. Hasil tersebut harus bertahan dalam serenteten prosedur pengujian lebih lanjut yang secara umum kurang lebihnya seperti ini :1. Pengujian dilakukan kolega sendiri ; 2. Pengujian di khalayak ramai apabila struktur sosial mengijinkan, dengan wasit media massa; 3. Kelayakannya diuji dalam front yang lebih luas, baik secara nasional ataupun internasional; 4. Diumumkan.

Dari prosedur diatas patut dipahami bahwa semua yang menunjuk pada penemuan baru dari suatu eksperimen secara benar harus dipandang sebagai produk aktivitas sosial yang kompleks dibanding keyakinan atau milik pribadi.

4. OBJEKTIVISME YANG DIDUKUNG OLEH POPPER, LOKATOS, DAN MARX.

a. Menurut Popper :

1. Pengetahuan atau pikiran dalam pengertian subjektif, terdiri dari keadaan-pikiran (state of mind) atau kesadaran atau kecenderungan bertindak atau bereaksi.

2. Pengetahuan atau fikiran dalam pengertian objektif, terdiri dari problema-problema, teori-teori, dan argumen-argumen itu sendiri. Yang sepenuhnya independen dari klaim seseorang untuk mengetahuinya atau bisa dikatakan bahwa “pengetahuan adalah tanpa orang; ia adalah pengetahuan tanpa di ketahui objek”

b. Menurut Lokatos

Lokatos sangat mendukung teori Popper dan menghendaki metodologinya tentang program riset ilmiah menjadi pandangan objektivis tentang ilmu.

Ada 3 hal penting mengenai pandangannya mengenai ilmu, yaitu :

  1. teori bisa pseudo ilmiah walaupun sangat masuk akal dan semua orang

mempercayainya.

  1. teori bisa sangat berharga secara ilmiah walaupun tidak masuk akal dan tak ada orang yang mempercayainya.
  2. bahkan, suatu teori bisa jadi bernilai ilmiah sangat tinggi walaupun tak ada orang yang memahami apalagi memahaminya.

Menurut lokatos pandangan objektivis ini sangat diperlukan ketika ingin menulis sejarah perkembangan ilmu.

c. Karl Marx

Memperkenalkan teori yang cukup terkenal tentang masyarakat dan perubahan sosial

“ bukanlah kesadaran manusia yang menentukan keadaannya, tetapi sebaliknya keadaan sosial yang menentukan kesadarannya”

Individu yang dilahirkan dalam struktur sosial yang sudah ada sebelumnya, dan tidak bisa menentukan pilihan akan jatuh di lingkungan sosial yang mana hingga mempengaruhi tindakan yang dilakukan oleh individu tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s