TERJEMAHAN BUKU LEADERSHIP AND STRATEGIC MANAGEMENT IN EDUCATION


PENDAHULUAN

Arti penting dari manajemen yang efektif dalam organisasi pendidikan telah semakin disadari. Sekolah dan universitas nampak jauh lebih efektif dalam memberikan pendidikan yang baik bagi para siswa dan mahasiswa jika dikelola dengan baik. Penelitian mengenai efektivitas sekolah dan peningkatan kualitas sekolah di berbagai negara menunjukkan bahwa kualitas kepemimpinan dan manajemen merupakan salah satu variabel yang paling penting untuk membedakan antara sekolah yang sukses dengan yang tidak sukses (Sammons et al., 1994). Temuan tersebut berarti bahwa manajemen merupakan sebuah aspek yang tidak dapat diremehkan bagi institusi pendidikan. Manajemen yang bagus membuat sebuah perbedaan bagi kualitas sekolah dan universitas dan prestasi pendidikan bagi para siswanya.

Pengenalan sekolah dan universitas yang menerapkan manajemen diri di berbagai negara, termasuk Australia, Inggris dan Wales, Hongkong, Israel, New Zealand dan Amerika Serikat, juga telah meningkatkan arti penting dari manajemen sekolah dan universitas yang efektif. Hal ini karena sekolah mengemban tanggung jawab atas berbagai fungsi yang sebelumnya diemban oleh pemerintahan negara, wilayah, dan daerah. Hal ini sering meliputi manajemen keuangan, manajemen pegawai dan manajemen hubungan dengan kelompok-kelompok eksternal dari sekolah dan universitas. Saat ini organisasi pendidikan telah memiliki tanggung jawab langsung untuk sebagian besar aspek manajemen, dimungkinkan bagi para pemimpin untuk mengadopsi sebuah pendekatan strategis, yang meliputi beberapa aspek yang berbeda dari manajemen untuk menentukan dan mencapai tujuan.

Dari segi operasional, manajemen strategis mempunyai dua kebutuhan penting, yaitu:

  • Scope

Strategi membutuhkan sebuah pandangan umum perusahaan yang mencakup semua aktivitas yang ada. Manajer berusaha untuk mengintegrasikan tugas-tugas sehingga sesuai dengan nilai dari sekolah tersebut dan saling menguntungkan. Ini merupakan sebuah pendekatan holistik dan tidak terbatas pada departemen atau sub unit tertentu.

  • Kerangka waktu

Strategi membutuhkan sebuah skala waktu yang diperluas. Manajemen jangka panjang bukan hanya merupakan sebuah respons terhadap kejadian yang terjadi saat ini. Secara umum, kerangka waktu tersebut akan meluas menjadi sebuah periode yang terdiri dari beberapa tahun dan direfleksikan dalam rencana pengembangan.

Manajemen tidak terbatas hanya pada kepala sekolah/pemimpin atau direktur eksekutif. Manajemen merata di antara mereka yang bertanggung jawab atas pengembangan kurikulum dan perlakuan terhadap siswa. Namun, manajemen strategis biasanya diuji oleh pemimpin atau tim manajemen senior (SMT) yang bekerja dengan badan yang mengaturnya.

MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN

Istilah “kepemimpinan” dan “manajemen” kadang-kadang digunakan secara bergantian atau dianggap sebagai sinonim. Hal ini sesuai sampai sejauh ini karena aktivitas tersebut sering dilakukan di sekolah dan universitas oleh orang yang sama, dan sering pada saat yang bersamaan. Pada tahun 1990-an, sebuah perbedaan telah dibuat antara kedua konsep tersebut. Kepemimpinan kadang dihubungkan dengan visi dan nilai sedangkan manajemen dikatakan berhubungan dengan proses dan struktur. Kepemimpinan telah artikan oleh beberapa pihak, misalnya oleh direktur eksekutif dari Badan Pelatihan Guru di Inggris dan Wales, sebagai aspek yang paling penting bagi keberhasilan sekolah sedangkan manajemen telah ditempatkan pada posisi kedua:

‘isu utama yang ingin kami bahas adalah kepemimpinan, khususnya bagaimana kualitas kepemimpinan dapat ditentukan dan ditingkatkan’ (Millett, 1996).

Para penulis saat ini memiliki pandangan yang berbeda, meyakini bahwa perbedaan antara kepemimpinan dan manajemen sering terlalu berlebihan dan bahwa kedua hal tersebut sama pentingnya bagi efektivitas pendidikan:

Organisasi yang memiliki manajemen yang bagus namun di bawah kepemimpinan yang buruk pada akhirnya akan kehilangan semangat atau tujuan. Organisasi yang dikelola dengan buruk yang memiliki pemimpin yang berkarisma kuat mungkin akan hanya akan melejit sesaat saja untuk kemudian jatuh setelahnya. Tantangan dari organisasi modern membutuhkan perspektif yang obyektif dari para manajer serta visi yang cerdas dan komitmen yang diberikan oleh kepemimpinan yang bijaksana (Bolman dan Deal, 1991, hal. Xiii-xiv).

Metode…sama pentingnya dengan pengetahuan, pemahaman dan orientasi nilai… Menegakkan dikotomi semacam ini antara sesuatu yang murni disebut “kepemimpinan” dan sesuatu yang “kotor” yang disebut “manajemen”, atau antara nilai dan tujuan pada satu sisi dan metode serta keahlian di sisi lain, akan sangat berbahaya (Glatter, 1997, hal. 189).

Kepemimpinan dan manajemen yang efektif dibutuhkan untuk menghasilkan peningkatan kualitas sekolah. Kami beralih saat ini untuk membicarakan sifat dari manajemen dalam pendidikan. Kepemimpinan akan dibahas secara detail pada Bab 4.

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN MANAJEMEN PENDIDIKAN?

Manajemen pendidikan merupakan sebuah bidang studi dan praktek mengenai operasi yang dijalankan organisasi pendidikan (Bush, 1995). Tidak ada definisi khusus yang diterima secara luas mengenai subyek tersebut karena asal-usul konseptualnya berbeda yang akan direfleksikan pada bab selanjutnya. Contoh-contoh berikut menunjukkan beberapa pengertian yang umum namun terdapat perbedaan penekanan yang jelas:

Manajemen merupakan sebuah proses yang berkelanjutan di mana para anggota Dari sebuah organisasi berusaha untuk mengkoordinasikan aktivitas mereka dan memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki dengan tujuan untuk memenuhi berbagai tugas dari organisasi tersebut seefisien mungkin (Hoyle, 1981, hal. 8).

[Manajemen] adalah sebuah aktivitas yang melibatkan tanggung jawab untuk memastikan segala sesuatu diselesaikan oleh orang lain (Cuthbert, 1984, hal. 37).

[Manajemen berkonsentrasi pada] operasi internal dari institusi pendidikan, dan juga dengan hubungan mereka dengan lingkungan di mana mereka berada, yaitu, komunitas di mana mereka didirikan, dan dengan badan pengatur pada siapa mereka secara formal bertanggung jawab (Glatter, 1979, hal. 16).

Everard dan Morris (1990, hal. 4) mengidentifikasi lima tahap dalam manajemen:

a)      Penentuan arah dan tujuan

b)      Merencanakan bagaimana kemajuan akan dibuat atau sebuah tujuan akan dicapai

c)      Mengatur sumber daya yang tersedia (manusia, waktu, dan material) sehingga tujuan dapat tercapai dengan cara yang terencana.

d)     Mengendalikan proses (yaitu mengukur prestasi dibandingkan dengan rencana dan mengambil tindakan koreksi ketika dibutuhkan).

e)      Membuat dan meningkatkan standar organisasi

Tahap-tahap tersebut dapat diterapkan bagi pekerjaan setiap guru namun, seperti yang diimplikasikan dalam definisi Cuthbert, manajemen secara umum berhubungan dengan bekerja sama dengan pegawai yang lain. Kepala sekolah dan pemimpin sekolah serta para anggota SMT, akan secara umum dianggap sebagai manajemen senior sedangkan kepala departemen atau pemimpin subyek, bersama dengan kepala tahunan, merupakan manajer tingkat menengah. Guru kelas yang tidak memiliki peran lain tidak akan dianggap sebagai manajer atau pegawai lain.

  • Komentar

Pada sebagian besar sekolah dasar di Inggris, hanya kepala guru yang memiliki waktu yang secara khusus dialokasikan bagi kegiatan manajemen. Wakil kepala dan koordinator mata pelajaran biasanya bekerja full-time sebagai guru kelas. Namun, mereka masih memenuhi definisi manajemen yang dibicarakan di atas. Ketika hanya sedikit waktu yang tersedia bagi tugas-tugas manajemen merupakan sebuah masalah, tanggung jawab mereka terhadap mata pelajaran berarti bahwa mereka masih harus dianggap sebagai manajer. Pada banyak sekolah, semua pegawai memiliki tanggung jawab atas mata pelajaran dan karenanya memiliki kewajiban manajemen.

Pada beberapa negara yang lain, khususnya Cina, Hongkong, dan Singapura, sekolah dasar di sana umumnya lebih besar daripada yang ada di Inggris dan penanggung jawab mata pelajaran secara umum disebut ‘kepala departemen’. Para manajer menengah tersebut juga tidak memiliki waktu tatap muka yang dialokasikan bagi peran manajemen mereka.

TUJUAN MANAJEMEN PENDIDIKAN

Aspek yang pertama dari manajemen yang diidentifikasikan oleh Everard dan Morris (di atas) adalah ‘menentukan arah dan tujuan’. Sebuah orientasi tujuan yang jelas adalah hal yang utama bagi banyak pendekatan teoritis bagi manajemen pendidikan, seperti yang akan kita lihat selanjutnya. Dua contoh akan menggambarkan poin tersebut:

Menentukan tujuan adalah sebuah fungsi utama dari administrasi (Culbertson, 1983, dikutip oleh Bush, 1995, hal. 1).

Sebuah organisasi dibuat untuk mencapai tujuan tertentu melalui aktivitas kelompok (cyert, 1975, dikutip dalam Bush, 1995, hal. 2).

Pada level general, penentuan tujuan dalam pendidikan adalah hal yang mendasar; hal ini harus berhubungan dengan pembelajaran. Sebuah contoh yang sederhana diberikan sebagai berikut:

Masalahnya di sini adalah mengenai integritas dan konsistensi – manajemen sekolah dan universitas harus secara logis berasal dari tujuan utama mereka dan memberikan sebuah pengertian yang jelas mengenai prinsip-prinsip yang sedang bekerja. Kami dapat meringkas hal ini dengan ungkapan lama ‘praktekkan apa yang anda pelajari’.

Dalam prakteknya, terdapat beberapa kesulitan yang nyata yang bergerak di luar titik awal yang tidak pasti ini. Tiga aspek dari penentuan tujuan mungkin sangat problematis:

Nilai dari pernyataan formal atas tujuan

Apakah tujuan ditentukan bagi organisasi atau bagi individu tertentu

Bagaimana tujuan institusi ditentukan

  • Tujuan formal

Tujuan formal dari sekolah dan universitas cenderung untuk tidak terlalu jelas dan bersifat umum. Mereka biasanya mengatur dukungan substansial namun sering memberikan sebuah dasar yang tidak memadai bagi tindakan manajerial. Sebuah tujuan umum dalam sebuah sekolah dasar atau sekolah menengah mungkin fokus pada penguasaan oleh setiap muridnya dalam hal keahlian fisik, sosial, intelektual dan kualitas moral. Hal ini berharga namun memiliki keterbatasan yang cukup berarti sebagai sebuah panduan untuk pengambilan keputusan. Tujuan yang lebih spesifik sering gagal untuk mencapai level kesepakatan yang sama. Sebuah proposal yang diajukan untuk meningkatkan prestasi dalam matematika dan ilmu pengetahuan alam, misalnya, mungkin ditentang oleh para guru dalam hal implikasi bagi mata pelajaran yang lain.

  • Tujuan organisasi atau individu

Beberapa pendekatan terhadap manajemen pendidikan secara dominan berkonsentrasi pada tujuan organisasi sedangkan model yang secara kuat menekankan ada tujuan individu. Terdapat serangkaian opini mengenai kedua pandangan tersebut. Gray (1979, hal. 12) menekankan kedua elemen tersebut: ‘proses manajemen terfokus pada membantu angota dari organisasi tersebut untuk mencapai tujuan individu dan sekaligus untuk mencapai tujuan organisasi dalam lingkungan organisasi yang berubah’. Sebuah masalah yang mungkin muncul adalah bahwa tujuan individu dan organisasi mungkin tidak sejalan atau bahwa organisasi bertujuan untuk memuaskan beberapa, namun tidak semua, aspirasi individu. Sangat beralasan untuk berasumsi bahwa sebagian besar guru menginginkan sekolah atau universitas mereka mengusahakan kebijakan yang selaras dengan minat serta pilihan mereka sendiri. Konflik mungkin muncul akibat kontradiksi pada kebijakan sekolah terhadap nilai dan tujuan dari sekelompok besar guru.

  • Penentuan tujuan

Proses dalam penentuan tujuan organisasi merupakan inti dari manajemen pendidikan. Dalam beberapa lokasi, tujuan ditentukan oleh koordinator guru ataupun kepala sekolah, sering juga dengan bekerjasama dengan kolega senior. Pada beberapa sekolah dan perguruan tinggi, penentuan tujuan merupakan sesuatu yang harus diambil secara bersama dalam kelompok atau staff. Tujuan sekolah dan perguruan tinggi ini banyak dipengaruhi oleh tekanan dari luar organisasi. Argument mengenai kurikulum nasional di Inggris dan Wales merupakan gejala yang bisa terlihat tentang keluasan dan kealamian dari resep dalam dunia pendidikan. Institusi mungkin lebih banyak memberikan tugas dalam menginterpretasikan persyaratan-persyaratan eksternal dibandingkan dengan menentukan tujuan sebagai dasar dari penilaian diri tentang apa yang siswa inginkan (diadaptasikan dari Bush, 1995, hal. 2-3).

Berdasarkan kesulitan ini, menjadi mungkin untuk membuat prinsip secara general bidang manajemen dalam institusi pendidikan. Everard dan Morris (1990, pp. 11-12) memberikan lima resep untuk sekolah:

  1. Satu tujuan sekolah adalah untuk mengembangkan proses pembelajaran siswa, dengan kurikulum yang disetujui stakeholder masing-masing, atau yang direkomendasikan oleh hukum.
  2. Organisasi sekolah harus berakhir secara efisien dan efektif dalam pembiayaannya
  3. Ketegangan organisasi dapat muncul diantara otonomi profesional dan kontrol manajerial, individualitas dan hierarki, otoritas struktural dan pembuatan keputusan, kebutuhan pendidikan yang banyak dan ketertarikan pribadi terhadap barang tertentu, prinsip yang tinggi dan penerapan pragmatis, dan dilema lain yang kadang-kadang membutuhkan sebuah keputusan yang sulit bahkan dapat merugikan pihak tertentu.
  4. Penemuan keseimbangan yang benar dalam dilema ini menimbulkan keputusan yang sulit, yang nantinya harus di hubungkan dengan seperangkat nilai dari luar dan lebih luas dari nilai yang ada dalam individu organiasi.
  5. Pada level tertinggi dalam abstraksi, seperti nilai yang diterapkan, dan sering dioperasikan, semua organisasi yang sukses, menjadikan mereka lebih berpendidikan dan komersial, dan mereka mampu bertindak diantara keduanya.

BAB II

KOMENTAR

Manajemen dan kepemimpinan merupakan suatu hal yang berbeda akan tetapi mempunyai kesatuan fungsi yang sangat penting bagi kelangsungan organisasi. Dalam pembahasan diatas disajikan data-data tentang perdebatan konseptual mengenai manajemen dan kepemimpinan, dan mendapatkan kesimpulan bahwa kepemimpinan dan manajemen yang efektif sangat dibutuhkanuntuk meningkatkan kualitas sekolah.

Menurut Husaini Usman (2008: 271) perbedaan antara pemimpin (leader) dan manajer bisa diibaratkan sebagai sopir bus dengan kernetnya. Sopir bus bertindak sebagai pemimpin yang menentukan kemana bus hendak dibawa. Agar perjalanan bus selamat sampai tujuan maka seorang sopir harus mempunyai pandangan yang jauh (visi). Sedangkan kernet lebih ke arah urusan ke bawah seperti membersihkan bus, mengisi bahan bakar, menyediakan  makan kecil, serta menagih biaya bus. Dari ilustrasi tersebut diketahui bahwa pemimpin berfungsi untuk hal yang berhubungan dengan visi ke depan sebuah organisasi dan bagaimana cara mewujudkannya sedang manajer lebih berfungsi sebagai pelaksana misi serta pengorganisasi kegiatan yang harus dilakukan oleh anggota organisasi.

Dalam makalah diatas juga disajikan tahap-tahap dalam manajemen tetapi tahap tahap tersebut tidak dijelaskan penerapannya dalam manajemen pendidikan. Demikian juga fungsi guru dalam proses manajemen, guru dianggap tidak memiliki peran dalam manajemen. Padahal dalam melakukan proses pembelajaran seorang guru harus menerapkan manajemen dalam pembelajarannya dan mengkoordinasikannya dengan komponen lain di sekolah. Seorang guru juga biasanya diberi satu tanggung jawab tertentu dalam administrasi yang ada di sekolah, misalnya menjadi kepala laboratorium atau kepala perpustakaan.

Tujuan manajemen pendidikan dalam bab ini juga menimbulkan masalah dalah hal nilai, konfrontasi antara tujuan individu dan organisasi, serta proses menentukan tujuan organisasi.  Tetapi kurang dijelaskan mengenai pemecahan problema yang telah muncul. Konflik yang muncul dalam organisasi karena sebab di atas merupakan hal yang biasa terjadi, salah satu pemecahannya dengan menerapkan konsep kepemimpinan partisipasif. Kepemimpinan partisipatif memungkinkan anggota organisasi untuk ikut menentukan arah dan tujuan organisasi pada masa yang akan datang. Sehingga setiap anggota merasa mempunyai program dan ikut bertanggung jawab terhaap keberhasilan tujuan yang diharapkan.

BAB III

PENERAPAN MANAJEMEN STRATEGI DALAM DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Pengimplementasian Manajemen Strategik di lingkungan organisasi bidang bisnis didasari oleh falsafah yang berisi nilai – nilai persaingan bebas antar organisasi bisnis sejenis, melalui pendayagunaan semua sumber yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang bersifat  strategik. Tujuan tersebut adalah mempertahankan dan mengembangkan eksistensi masing – masing untuk jangka waktu panjang, melalui kemampuan meraih laba kompetitif secara berkelanjutan. Sedang organisasi pendidikan didasari oleh filsafat yang berisi nilai – nilai pengabdian dan kemanusiaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Perbedaan lain terletak pada pengorganisasian masing – masing. Setiap organisasi profit memiliki otonomi dalam menjalankan manajemennya, berupa kebebasan mewujudkan pengembangan organisasinya antara lain dengan memilih pengimplementasian Manejemen Strategik atau manajemen lainnya yang dinilai terbaik. Di organisasi non profit khususnya bidang pendidikan, organisasi ini diatur dengan manajemen umum oleh pemerintah Pusat ataupun daerah, yang secara berencana dan sistematis telah menetapkan berbagai pengaturan yang mengikat dalam memilih dan mengimplementasikan manajemennya.

Manajemen umum yang telah dibuat standartnya oleh pemerintah pusat kemudian di sesuaikan dengan manajemen yang berlaku di daerah. Pada era otonomi daerah saat ini, manajemen yang di gunakan adalah manajemen berbasis sekolah dimana sekolah dapat menentukan sendiri arah dan tujuan sekolah di masa yang akan datang. Dalam manajemen ini, pihak sekolah diharapkan mampu untuk menentukan visi dan misi sekolah secara jelas serta membuat rencana strategi dimasa rentang waktu tertentu.

Pemerintah juga telah membuatkan jenjang-jenjang tertentu dengan standart tertentu sebagai acuan sekolah untuk menentukan tingkat kemajuan dan pengembangan sekolah. Rencana strategi yang dibuat berupa RKAS dan RPS merupakan bukti bahwa manajemen strategi telah mulai digunakan di tingkat sekolah. Rencana strategi yang berupa RKAS memuat rencana jangka panjang yang harus dilakukan sekolah 4 sampai 5 tahun ke depan, di dalamnya berisi visi dan misi sesuai dengan standart yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Standart tersebut berupa 8 standar yang termaktub dalam 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP). RPS berisi rencana operasional yang akan dilakukan selama satu tahun untuk mewujudkan visi yang telah dibuat sebelumnya.

Penentuan visi dan misi yang ada dalam RKAS biasanya di lakukan melalui proses kesepakatan antara manajemen sekolah dengan komite sekolah dibawah pengawasan Dinas Pendidikan. Selanjutnya dalam proses pelaksanaanya secara berkala dilakukan monitoring evaluasi, baik dari pihak sekolah sendiri ataupun dari pihak komite sekolah.

Sumber

Bush, Tony (2000). Leadership and strategic management in education.

Husaini Usman (2008). Manajemen teori praktik dan riset pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s