IMPLEMENTASI TOTAL QUALITY MANAJEMEN DI SMP N 2 SELOPAMPANG KABUPATEN TEMANGGUNG


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Di era sekarang ini perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) semakin canggih dan terus mengglobal sehingga berdampak pada hampir semua kehidupan umat manusia di muka bumi dewasa ini. Semakin berkembangnya IPTEK tersebut manusia dituntut untuk semakin maju pula.
Lembaga pendidikan sebagai organisasi merupakan salah satu sistem juga tidak dapat terhindar dampak dari kemajuan tersebut, dengan demikian maka disetiap lembaga pendidikan dituntut untuk dapat mengantisipasi berbagai perubahan-perubahan tersebut.

Peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu prioritas pembangunan di bidang pendidikan nasional dewasa ini dan mendatang. Prioritas ini didasarkan pada kebijaksanaan sebelumnya yang lebih menekankan kepada perluasan dan kesempatan belajar sehingga mutunya sedikit terabaikan. Selain itu, tentunya tuntutan terhadap mutu pendidikan semakin kuat sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan di setiap sektor kehidupan di masa kini dan mendatang.

Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan kini sebenarnya telah, sedang dan akan terus dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan. Mulai dari peningkatan kualitas pendidikan pra sekolah, dasar, menengah sampai dengan perguruan timggi. Salah satu upaya yang dewasa ini sedang disosialisasikan dan dianggap tepat adalah melalui Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu (MMT). Esensi dari TQM adalah suatu filosofi dan menunjuk pada perubahan budaya dalam suatu organisasi (pendidikan), serta dapat menyentuh hati dan pikiran orang menuju mutu yang diidamkan.

Dalam dunia pendidikan, filosofi TQM memandang pendidikan sebagai jasa dan usaha lembaga pendidikan sebagai industry jasa dan bukan merupakan proses produksi. Oleh sebab itu, TQM tidak membicarakan tentang input yang berupa siswa dan output yang berupa lulusan tetapi TQM lebih banyak berbicara tentang pelanggan-pelanggan yang mempunyai berbagai macam kebutuhan, dan tentang bagaimana memuaskan pelanggan tersebut.

TQM dunia pendidikan adalah cara mengelola lembaga pendidikan berdasarkan asumsi bahwa peningkatan mutu harus dilaksanakan semua unsure lembaga sejak awal secara terpadu dan berkesinambungan. Dengan proses tersebut pendidikan akan berjalan sebagai jasa yang berupa proses pembudayaan sesuai dengan kebutuhan pelanggan baik masa kini maupun masa yang akan datang. Dalam jangka waktu tertentu, TQM pendidikan akan menghasilkan lulusan yang bermutu, menjaga mutu serta meningkatkan mutu secara berkesinambungan.

SMP Negeri 2 Selopampang merupakan sekolah yang sedang dipersiapkan untuk menuju sekolah berstandar Nasional, tantangan utama yang dihadapi adalah meningkatkan kualitas pendidikan agar setara dengan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah yang lain. Penggunaan pendekatan TQM dalam pendidikan diharapkan mampu menjadi solusi bagi sekolah ini untuk meningkatkan kualitas sekolah.

 

  1. Rumusan Masalah

Permasalahan mutu pendidikan di Indonesia masih merupakan permasalahan yang belum terpecahkan. Penerapan TQM dalam dunia pendidikan merupakan suatu hal yang bisa dijadikan alternatif pemecahan masalah peningkatan mutu pendidikan yang ada di Indonesia. Dengan pendekatan TQM pendidikan akan dihasilkan lulusan yang bermutu, menjaga mutu dan meningkatkan mutu secara berkesinambungan.

Menurut Edward Sallis (2008) menyatakan bahwa untuk menilai mutu dari sebuah organisasi atau sekolah dapat menggunakan acuan sepuluh nilai. Kesepuluh nilai ini terdiri atas akses, pelayanan pelanggan terutama peserta didik, kepemimpinan, lingkungan fisik dan sumber daya sarana prasarana, pembelajaran dan mengajar efektif, peserta didik, staff tata usaha, hubungan masyarakat, organisasi dan standart. Apabila indikator di atas telah dilaksanakan secara baik dan berkelanjutan oleh sekolah maka sekolah akan dikatakan mempu menerapkan TQM secara baik dan benar.

Metode yang digunakan dalam diagnosa ini dengan menggunakan angket yang terlampir dalam buku Edward Sallis. Hanya saja karena keterbatasan waktu maka diambil tiga nilai yang mudah untuk dilihat dan dianalisis yaitu nilai layanan bagi pelanggan, nilai lingkungan dan sumber daya fisik, dan nilai pembelajaran yang efektif. Hasil yang ada kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif.

 

  1. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiagnosa diri atau evaluasi diri sebagai langkah pertama untuk pelaksanaan manajemen mutu terpadu di sekolah. Dengan diagnose yang benar dan tepat maka akan diperoleh sebuah rekomendasi awal bagaimana memulai sebuah manajemen mutu terpadu di sekolah serta akan diketahui apa kekurangan dan kelebihan yang dipunyai sekolah saat ini.

 

  1. Manfaat

ü  Bagi sekolah : akan mendapatkan informasi yang dibutuhkan oleh sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas manajemen di sekolah.

ü  Bagi siswa :  akan membantu siswa mendapatkan kepuasan pelayanan oleh sekolah.

ü  Bagi pendidikan pada umumnya : akan meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan sehingga akan meningkatkan juga mutu pendidikan di Indonesia.

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN

 

 

  1. Kajian Teori
  2. Definisi TQM

Dalam mendefinisikan kualitas produk, ada beberapa pakar utama dalam manajemen mutu terpadu (Total Quality Management) yang saling berbeda pendapat, tetapi maksudnya sama. Diantara beberapa definisi tersebut adalah :

  1. Menurut Crosby, kualitas adalah conformance to requirement, yaitu sesuai yang diisyaratkan atau distandarkan. Suatu produk memiliki kualitas apabila sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan. Standar kualitas meliputi bahan baku, proses produksi dan produksi jadi.
  2. Menurut Feigenbaum, kualitas adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full costumer satisfaction). Suatu produk dikatakan berkualitas apabila dapat memberi kapuasan sepenuhnya kepada konsumen, yaitu sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen atas suatu produk.
  3. Menurut Garvin, kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia atau tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Selera atau harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah sehingga kualitas produk juga harus berubah atau disesuaikan. Dengan perubahan kualitas produk tersebut, diperlukan perubahan atau peningkatan keterampilan tenaga kerja, perubahan proses produksi dan tugas, serta perubahan lingkungan perusahaan agar produk dapat memenuhi atau melebihi harapan konsumen.

 

Berangkat dari beberapa definisi tersebut, maka dapat diketahui bahwa hal mendasar dalam mendefinisikan kualitas adalah quality assurance, contract conformance and costumer driven .

Meskipun tidak ada definisi mengenai kualitas yang diterima secara universal, namun ketiga definisi kualitas tersebut di atas terdapat beberapa persamaan, yaitu dalam elemen-elemen sebagai berikut :

a. Kualitas mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
b.  Kualitas mencakup produk, jasa manusia, proses dan lingkungan

         Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang dianggap merupakan kualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang). Beberapa ahli managemen memberi definisi TQM (Total Quality Management) sebagai berikut:

a)      Menurut Edward Sallis bahwa “Total Quality Management is a philosophy and a methodologhy which assits institutions to manage change and to set their oum agendas for dealing whit the pletbora of new external pressures .” Pengertian ini menekankan bahwa Total Quality Management merupakan suatu filsafat dan metodologi yang membantu berbagai institusi, terutama industri, dalam mengelola perubahan dan menyusun agenda masing-masing untuk menanggapi tekanan-tekanan faktor eksternal.

b)      Menurut Cafee dan Sherr menyatakan bahwa manajemen mutu terpadu adalah suatu filosofi komprehensif tentang kehidupan dan kegiatan organisasi yang menekankan perbaikan berkelanjutan sebagai tujuan fundamental untuk meningkatkan mutu, produktivitas dan mengurangi pembiayaan.

c)      Hradesky; TQM is a philosophy, a set of tools, and a process whose output yield customer satisfaction and continuous improvement.

 

Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas yang diinginkan dengan didasarkan pada kepuasan pelanggan, maka diperlukan manajemen yang tepat guna, yaitu Total Quality Manajement (TQM). Istilah utama yang terkait dengan kajian Total Quality Manajement (TQM) adalah continous improvement (perbaikan terus menerus) dan quality improvement (perbaikan mutu).

Pada dasarnya Managemen Kualitas (Quality Management) Manajemen Kualitas Terpadu (Total Quality Management = TQM) didefinisikan sebagai suatu cara meningkatkan performansi secara terus-menerus (continuous formanceimprovement) pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap area fungsional dari organisasi, dengan menggunakan semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia .

Dari beberapa definisi tersebut di atas, dapat diketahui bahwa Total Quality Management (TQM) memfokuskan pada suatu proses atau system pencapaian tujuan organisasi. Dengan dimulai dari proses perbaikan mutu, maka TQM diharapkan dapat mengurangi peluang membuat kesalahan dalam menghasilkan produk, karena produk yang baik adalah harapan para pelanggan. Jadi rancangan produk diproses sesuai dengan prosedur dan tekhnik untuk mencapai harapan pelanggan. Penggunaan metode ilmiah dalam menganalisis data diperlukan sekali untuk menyelesaikan masalah dalam peningkatan mutu. Partisipasi semua pegawai digerakkan agar mereka memiliki motivasi dan kinerja yang tinggi dalam mencapai tujuan kepusan pelanggan.

 

  1. Sejarah TQM

Landasan historis Manajemen ini sebenarnya adalah Statistical Process Control (SPC) yang merupakan model manajemen manufaktur yang pertama kali diperkenalkan oleh Edward Deming dan Joseph Juran sesudah perang dunia II, guna membantu bangsa Jepang untuk membangun kembali infrastruktur negaranya. Ajaran Deming dan Juran ini berkembang terus hingga kemudian dinamakan Total Quality Management oleh US Navy pada tahun 1985 .

 

  1. Konsep Dasar dan Prinsip-prinsipTQM
    1.  Konsep Dasar TQM

Konsep manajemen TQM lebih memusatkan perhatian kepada uapaya pergerakan dan pemberdayaan sumber daya manusia (human resources empowering and motivating). Kepuasan pelanggan merupakan fokus dari pelaksanaan TQM. Filosofi ini menyebabkan beberapa implikasi yang sangat besar dalam pelaksanaan sistem manajemen dibandingkan dengan sistem managemen konvensional. Kepuasan pelanggan yang dinyatakan dalam TQM merupakan kepuasan pelanggan baik pelanggan internal maupun eksternal, sehingga penentuan visi dan tujuan harus selalu melibatkan pelanggan, sehingga sebuah organisasi yang hendak menerapkan TQM harus mendefinisikan terlebih dahulu siapa yang termasuk dalam pelanggannya yang kebutuhan dan harapannya harus selalu diidentifikasi.

  1. b.  Prinsip-prinsip TQM

Prinsip-prinsip Total Quality Management (TQM) Menurut Hensler & Brunell, yaitu ada empat sprinsip utama:

1) Kepuasan Pelanggan

Dalam TQM, konsep mengenai kualitas pelanggan diperluas. Kualitas tidak lagi hanya bermakna kesesuaan dengan spesipikasi-spesipikasi tertentu, tetapi kualitas tersebut ditentukan oleh pelanggan. Pelanggan itu sendiri meliputi pelanggan internal dan eksternal. Kebutuhan pelanggan diusahakan untuk dipuaskan dalam segala aspek, diantaranya harga, keamanan, dan ketepatan waktu. Oleh karena itu segala aktivitas harus dikoordinasikan untuk memuaskan para pelanggan. Kualitas yang dihasilkan suatu perusahaan sama dengan nilai (value) yang diberikan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup para pelanggan. Semakin tinggi nilai yang diberikan, maka semakin besar pula kepuasan pelanggan.

2) Respek terhadap setiap orang

Setiap karyawan dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan kreativitas tersendiri yang unik. Dengan demikian karyawan merupakan sumber daya organisasi yang peling bernilai. Oleh karena itu setiap orang dalam organisasi diperlakukan dengan baik dan diberi kesempatan untuk terlibat dan berpartisipasi dalam tim pengambil keputusan.

3) Manajemen berdasarkan fakta

Setiap keputusan selalu didasarkan pada data, bukan sekedar pada perasaan (feeling). Ada dua konsep pokok berkaitan dengan hal ini. (1) prioritasi (prioritization) yakni suatu konsep bahwa perbaikan tidak dapat dilkukan pada semua aspek pada saat yang bersamaan, mengingat keterbatasan sumber daya yang ada. Oleh karena itu dengan menggunkan data maka manajemen dan tim dalam organisasi dapat memfokuskan usahanya pada situasi tertentu yang vital. (2) variasi (variation) atau variabilitas kinerja manusia. Data statistik dapat memberikan gambaran mengenai variabilitas yang merupakan bagian yang wajar dari suatu sistem organisasi. Dengan demikian menejemen dapat memberikan prediksi hasil dari setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.

4) Perbaikan berkesinambungan

Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses secara sistematis dalam melakukan perbaikan berkesinambungan. Konsep yang berlaku disini adalah siklus PDCA (plan-do-chek-act), yang terdiri dari langkah-langkah perencanaan, dan tindakan korektif terhadap hasil yang diperoleh.

 

  1. Karakteristik TQM

Adapun karakteristik Total Quality Mangjement (TQM) menurut Joseph M. Juran adalah meliputi:

a. Kualitas menjadi bagian dari setiap agenda managemen atas

b. Sasaran kualitas dimasukkan dalam mrencana bisnis.

c. Jangkauan sasaran diturunkan dari benchmarking: fokus adalah pada pelanggan dan pada kesesuaian kompetisi, di sana adalah sasaran untuk peningkatan kualitas tahunan.

d. Sasaran disebarkan ketingkat yang mengambil tindakan.

e. Pelatihan dilaksanakan pada semua tingkat.

f. Pengukuran ditetapkan seluruhnya.

g. Manajer atas sadar teratur meninjau kembali kemajuan dibandingkan dengan sasaran.

h. Penghargaan diberikan untuk performansi terbaik.

i. Sistem imbalan (reward system) diperbaiki .

 

  1. Pembahasan

 

Ketika dikaitkan dengan konteks aplikasinya dalam konsep pendidikan, maka Total Quality Manajement dapat didefinisikan sebagai “a philoshophy improvement which can provide any educational institution with a set of practical tools for meeting and exceeding present and future coctumer need, wants and expextations”. Definisi Total Quality Management tersebut menekankan pada dua konsep utama. Pertama, sebagai suatu filosofi perbaikan terus menerus (continous improvement), dan kedua berhubungan dengan alat-alat dan tekhnik seperti “brainstorming” dan “force field analysis” (analisis kekuatan lapangan), yang digunakan untuk perbaikan kualitas dalam tindakan manajeen untuk mencapai kebutuha dan harapan pelanggan.

Sedangkan Total Quality Management dalam pendidikan telah dinyatakan oleh Sallis, bahwa “Total Quality Management is about creating a quality culture where the aim of every member of staff is to delight their customer, and where the stucture of their organizations allow todo so” . Hal ini mengandung pengertian bahwa Total Quality Management berhubungan dengan penciptaan budaya kualitas dengan memposisikan tujuan karyawan dan staf untuk menyenangkan konsumen sekaligus didukung oleh organisasi mereka dan melakukan sesuatu yang dikehendaki.

Untuk bisa menyenangkan konsumen dalam pendidikan maka perlu perbaikan program sekolah yang mungkin dilakukan secara lebih kreatif dan konstruktif, dan yang paling vital adalah bagaimana mutu kualitas dalam programnya dapat mengobah kultur sekolah para pelajar dan orang tuanya menjadi tertarik dengan adanya inovasi yang ditimbulkan oleh TQM.

Dalam rangka melaksanakan peningkatan kualitas pendidikan perlu melaksanakan metode yang dikenal dengan metode PDCA (Plan-Do-Chek-Act). Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Sheward dan divisualisasikan oleh Deming , berupa siklus PDCA.

Dari hasil observasi di SMP Negeri 2 Selopampang pada aspek nilai layanan bagi pelanggan, nilai lingkungan dan sumber daya fisik, dan nilai pembelajaran yang efektif didapatkan hasil sebagai berikut:

  1. Nilai layanan bagi pelanggan.

Terdapat tiga indikator penting dalam aspek ini yaitu petunjuk dan bimbingan, sumber daya dalam proses belajar, dan fasilitas umum. Diantara ketiganya terdapat hal-hal penting yang harus ditumbuhkan agar manajemen mutu pendidikan akan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan sekolah.

  1. Petunjuk dan bimbingan

ü  Layanan informasi dan bimbingan oleh sekolah sudah dilaksanakan akan tetapi belum maksimal dan belum tertata dengan baik.

ü  Bimbingan masuk bagi calon pelajar sudah dilaksanakan dengan baik ketika mulai pendaftaran siswa baru awal tahun.

ü  Pada waktu menduduki kelas akhir yaitu kelas IX, bimbingan sekolah lanjutan sudah diberikan tetapi hanya sebatas sekolah tertentu yang membutuhkan siswa datang langsung ke sekolah.

ü  Untuk pelajar yang mendapatkan masalah dan problema tertentu fasilitas bimbingan konseling teah dapat dimanfaatkan. Walaupun masih kekurangan tenaga guru BK, fungsi bimbingan ini dilakukan oleh wali kelas serta kepala sekolah.

  1. Sumber daya dalam proses belajar.

ü  Perpustakaan sekolah telah ada, namun buku yang tersedian masih kurang dan hanya sebatas buku-buku pelajaran dan sedikit buku fiksi.

ü  Sumber daya belajar sudah ada tapi belum mencukupi dan belum sesuai dengan jumlah siswa yang ada.

ü  Fasilitas computer belum memadai dan belum bias diakses sendiri oleh siswa, masih dengan bantuan guru atau staff TU.

  1. Fasilitas Umum

ü  Fasilitas kantin sekolah belum ada, tapi terdapat warung koperasi yang ditujukan untuk siswa.

ü  Fasilitas olahraga sudah ada tapi belum sesuai dengan rasio jumlah siswa

ü  Fasilitas relaksasi belum begitu maksimal dimanfaatkan oleh siswa, sehingga kadang hanya menjadi ruang yang kosong saja.

ü  Para pelajar diberikan kesempatan untuk mengorganisir aktivitasnya, namun karena padatnya jadwal kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa maka kesempatan ini seringkali tidak terlaksanakan oleh siswa.

Dari penjelasan di atas, untuk aspek layanan bagi pelanggan di SMP N 2 Selopampang masih berada dalam kategori tengah-tengah, tidak terlalu jelek tapi belum bisa dikatakan berhasil. Dalam rangka mewujudkan manajemen mutu terpadu di sekolah ini harus dibuat perubahan-perubahan tertentu yang dilakukan oleh pihak pelayan pelanggan yaitu staff guru dan staff  TU.

  1. Lingkungan dan sumber daya fisik

Aspek lingkungan dan sumber daya fisik ini berkaitan dengan tata ruang sekolah sampai keselamatan semua yang ada di sekolah.

  1. Bangunan dan ruang kelas

ü  Keadaan ruang kelas dan bangunan dalam keadaan tertata rapi, hanya saja kebersihan masih kelihatan belum terjaga dengan baik, masih banyak sampah yang tidak terdapat pada tempat sampah.

ü  Pendirian bangunan dan ruang kelas sudah sesuai dengan yang tercantum di master plan.

ü  Secara garis besar walaupun sekolah ini terletak di tengah sawah, namun untuk penampakan depan sudah banyak taman perindang sekolah, hanya saja karena pohon yang ditanam belum begitu besar sehingga kondisi sekolah pada siang hari masih terlihat panas.

 

  1. Lingkungan belajar yang mendukung

ü  Lingkungan belajar yang tercipta di sekolah ini belum begitu terbangun dengan rapih dan baik, dikarenakan kesadaran masyarakat tentang pentingnya sekolah belum begitu besar. Hal ini menyebabkan pantauan belajar siswa kurang dan prestasinya tidak maksimal.

ü  Tata ruang sekolah ini sudah bagus dan tidak menyulitkan siswa dalam mencari ruangannya.

  1. Kesehatan dan keselamatan

ü  Letak sekolah yang jauh dari jalan besar menyebabkan siswa aman dari kecelakaan kendaraan.

ü  Kebijakan dan keselamatan sudah berjalan dengan baik, masalah kesehatan ditangani oleh UKS dan PMR sedangkan keselamatan dimasukkan dalam penjaga sekolah.

  1. Kontrol dan alokasi sumber daya

ü  Kontrol yang dilakukan pada sumber daya belum maksimal dilakukan, masih banyak alat-alat yang rusak serta kurang pemeliharaannya.

ü  Sumber daya yang ada seringkali dimanfaatkan oleh pengguna yang bergantian sehingga bila ada alat yang rusak menjadi tanggungan bersama.

Dalam  aspek nilai lingkungan dan sumber daya fisik, bangunan dan sumber daya fisik telah tersedia dengan baik tapi pemeliharaannya belum dilakukan secara tertata dan terencana oleh sekolah ini. Sehingga untuk meningkatkan aspek pelayanan mutu dapat dilakukan dengan pembuatan program pemeliharaan yang harus ditaati oleh semua pihak.

  1. Pembelajaran efektif.
    1. Ketepatan model pembelajaran

ü  Strategi pembelajaran dan pengajaran telah dibuat sesuai dengan tujuan yang diharapkan di akhir pembelajaran, walaupun terkesan hanya memilih strategi yang sama setiap waktu.

ü  Variasi model pembelajaran juga belum terlalu banyak, sebagian besar masih menggunakan metode ceramah interaktif serta diselingi pembelajaran kooperatif.

ü  Strategi pembelajaran belum sesuai dengan kriteria obyektif

ü  Strategi pembelajaran biasanya disesuaikan oleh materi yang akan disampaikan pada siswa dengan mempertimbangkan karakteristik siswa

ü  Pembelajaran bersifat focus terhadap pembelajar walaupun masih juga yang menggunakan pembelajaran yang berfokus pada guru.

ü  Pelajar belum dilibatkan langsung dalam terhadap pembelajaran yang mereka lakukan, karena usia siswa belum dapat menaksir yang baik maka siswa hanya menjalankan scenario yang telah dibuatkan guru.

ü  Pembelajaran merupakan prioritas utama dalam kegiatan sekolah, baik dari segi pembagian waktu maupun dengan kegiatan yang lain.

ü  Evaluasi pembelajaran dilakukan dalam beberapa kategori yaitu ulangan harian, ulangan blok yang berupa mid semester serta ulangan akhir semester.

ü  Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan tujuan pengajaran, di sekolah ini target prestasi masih sulit untuk ditingkatkan. Sehingga masih memerlukan usaha yang keras untuk mendongkrak prestasi siswa.

  1. Ketepatan portofolio pembelajaran

ü  Pembelajaran menggunakan metode portofolio masih jarang digunakan oleh guru

ü  Materi program yang diberikan pada siswa merupakan materi terkini, hal ini bias terluhat karna setiap tahun selalu ada pembaruan dari pengetahuan guru baik dari MGMP sekolah maupun kabupaten.

ü  Karena posisi sekolah yang masih jauh dan di desa pengambangan program baru jarang yang bisa langsung diaplikasikan pada siswa.

ü  Penyampaian program sekolah kepada masyarakat dilakukan pada saat rapat komite sekolah yang selalu diadakan setiap tahun sekali.

  1. Pangawasan dan evaluasi

ü  Umpan balik prestasi siswa diberikan secara berkala dalam bentuk hasil ulangan harian, ulangan mid semester dan ulangan akhir semester.

ü  Umpan balik berupa hasil mid semester dan ulangan akhir semester diberikan kepada orang tua wali sebagai penanggung jawab siswa.

ü  Keberhasilan pembelajaran dievaluasi setiap semester dalam rapat sebelum semester dimulai.

ü  Umpan balik yang didapat dari orang tua siswa digunakan sebagai dasar pembuatan kebijakan semester selanjutnya.

Dalam aspek menyelenggarakan pembelajaran yang efektif, sekolah ini masih mempunyai kekurangan-kekurangan terutama dalam hal mencetak anak yang berprestasi. Metode yang digunakan dalam pembelajaran juga belum bervariasi sehingga potensi anak belum maksimal tergali. Proses pengawasan pembelajaran yang dilakukan sudah sesuai dengan ketentuan yang ada dalam standart penilaian pendidikan, yaitu dengan ulangan harian, ulangan blok, ulangan mid semester dan ulangan akhir semester.

Secara keseluruhan dilihat dari tiga aspek nilai TQM ini, posisi SMP Negeri 2 Selopampang masih belum menerapkan manajemen mutu yang baik. Sehingga diperlukan awal yang baik untuk memulai sebuah perubahan untuk menjalankan manajemen yang lebih baik lagi.

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

  1. KESIMPULAN

 

Penerapan manajemen mutu di sekolah SMP Negeri 2 Selopampang belum dapat dilaksanakan secara menyeluruh dalam semua aspek. Apabila dilihat dari aspek layanan bagi pelanggan belum dapat dilaksanakan secara maksimal karena masih terkendala oleh kurangnya fasilitas yang ada. Dalam aspek lingkungan dan sumber daya fisik juga belum bisa dimaksimalkan karena masih kurangnya pemeliharaan sumber daya yang ada di sekolah. Sedangkan dalam aspek pembelajaran yang efektif, pembelajaran belum banyak menggunakan metode yang bervariasi sehingga prestasi anak juga belum maksimal.

 

  1. REKOMENDASI

 

Hal yang perlu dilakukan untuk penerapan manajemen mutu di sekolah ini adalah dengan cara memasukan program manajemen mutu secara keseluruhan di awal tahun atau awal pembuatan RENSTRA. Dengan begitu semua komponen sekolah akan menyadari pentingnya melakukan perubahan layanan pada pelanggan sekolah sehingga akan meningkatkan mutu layanan.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Husaini Usman. (2008). Manajemen: Teori, praktek, dan riset pendidikan. Edisi kedua. Penerbit Bumi aksara. Jakarta

Sallis, Edward. 2008. Total Quality Manajemen in Education. Cetakan ke delapan. Penerbit IRCiSoD, Jogjakarta

 

Supriyanto, Achmad. 1999. Total Quality Management (TQM) di Bidang Pendidikan. Malang: FIP IKIP Malang

 

Tjiptono, Fandy, & Diana, Anastasia, 2003, Total Quality Manajemen, Yogyakarta, Andi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s