MANAJEMEN RESIKO KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM


I. Identifikasi pengelolaan dan manajemen resiko laboratorium IPA
Laboratorium ialah suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian. Tempat ini dapat merupakan ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, atau kebun. Dalam pengertian yang terbatas, laboratorium adalah suatu ruangan yang tertutup di mana percobaan/eksperimen dan penelitian dilakukan (Depdikbud: 1995, 2003).
Laboratorium dapat berfungsi sebagai yang disebutkan tadi di atas, laboratorium sains harus bersifat fleksibel (luwes), ini artinya laboratorium harus dapat berfungsi sebagai berikut:
1) Tempat siswa bereksperimen.
2) Tempat siswa mendiskusikan eksperimen.
3) Tempat siswa melihat demonstrasi.
4) Tempat siswa mendengarkan penjelasan konsep-konsep sains dari guru.
Di dalam pengelolaan laboratorium ditentukan cara-cara mengevaluasi hasil belajar, buku-buku apa saja yang dipakai oleh siswa dan peraturan pemakaian laboratorium. Ketentuan yang sudah disepakati dan dibuat hendaknya dipatuhi dan dilaksanakan dengan baik. Di samping itu, tugas pengelola laboratorium akan berhasil baik jika pemakai laboratorium dapat bekerja sama dengan baik.
Termasuk tugas dan tanggung jawab pengelola laboratorium ialah mengadministrasian alat dan bahan. Pengadministrasian alat dan bahan ialah mendaftar alat dan bahan yang ada dalam laboratorium dengan suatu sistem tertentu yang mudah dipahami oleh semua pihak. Hasil administrasi alat/bahan dan dari laporan akhir tahun dibuatlah rencana untuk tahun berikutnya.
Kecelakaan dapat terjadi dalam setiap kegiatan manusia. Kecelakaan merupakan suatu kejadian di luar kemampuan manusia, terjadi dalam sekejap dan dapat menimbulkan kerusakan baik jasmani maupun jiwa. Kegiatan yang membahayakan sering terjadi di laboratorium, tetapi hal ini tidak harus membuat kita takut untuk melakukan kegiatan laboratorium.
Salah satu hal yang penting yang diharapkan dari melakukan kegiatan dan eksperimen didalam belajar sains adalah agar siswa atau mahasiswa berhadapan langsung dengan suatu gejala atau fenomena. Untuk sebagian mahasiswa pemahaman akan terjadi dengan cara melakukan learning by doing.
Eksperimen dapat merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan dapat juga membahayakan. Guru harus mampu mencegah terjadinya kecelakaan. Siswa mengetahui tentang bahaya yang dapat terjadi di dalam melakukan suatu kegiatan laboratorium atau eksperimen sehingga mereka melakukannya dengan hati-hati. Dengan demikian bahaya terjadinya kecelakaan dapat dihindarkan.
Risiko adalah hal yang tidak akan pernah dapat dihindari pada suatu kegiatan / aktivitas yang dilakukan manusia, termasuk aktivitas proyek pembangunan dan proyek konstruksi. Karena dalam setiap kegiatan, seperti kegiatan konstruksi, pasti ada berbagai ketidakpastian (uncertainty). Faktor ketidakpastian inilah yang akhirnya menyebabkan timbulnya risiko pada suatu kegiatan.
Untuk dapat menanggulangi semua risiko yang mungkin terjadi, diperlukan sebuah proses yang dinamakan sebagai manajemen risiko. Adapun beberapa definisi manajemen risiko dari berbagai literatur yang didapat, antara lain :
a. Manajemen risiko merupakan proses formal dimana faktor – faktor risiko secara sistematis diidentifikasi, diukur, dan dicari
b. Manajemen risiko merupakan metoda penanganan sistematis formal dimana dikonsentrasikan pada pengientifikasian dan pengontrolan peristiwa atau kejadian yang memiliki kemungkinan perubahan yang tidak diinginkan.
c. Manajemen risiko, dalam konteks proyek, adalah seni dan pengetahuan dalam mengidentifikasi, menganalisa, dan menjawab faktor – faktor risiko sepanjang masa proyek.
II. Analisis kasus kecelakaan yang terjadi di kegiatan praktikum dalam laboratorium
Praktikum fotosintesis merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan di pembelajaran IPA Biologi kelas VIII semester 2. Terdapat dua bentuk praktikum yang sering dilaksanakan oleh siswa yaitu percobaan ingenhous dan percobaan sachs. Kedua jenis praktikum ini sama-sama menggunakan peralatan yang terbuat dari kaca, alkohol dan api. Berikut mekanisme kedua percobaan tersebut :
1. Percobaan Ingenhous
A. Tujuan
Mengetahui bahwa pada pristiwa fotosintesis dihasilkan gas O2
B. Alat dan Bahan
1. Tumbuhan air (Hydrilla verticillata)
2. Air
3. Soda kue
4. Gelas kimia
5. Corong kaca
6. Tabung reaksi
7. Plastik warna merah atau biru
8. Lidi
9. Korek api

C. Cara Kerja
1. Isilah gelas kimia dengan air kira-kira setengahnya
2. Masukkan tumbuhan Hydrilla ke corong kaca
3. Letakkan corong kaca dalam gelas kimia dengan posisi terbalik
4. Tutupkan tabung reaksi pada pipa corong
5. Buatlah 4 set alat seperti ini
6. Tempatkan 1 set alat di tempat terang, 1 set alat di tempat teduh, 1 set alat di tempat terang dengan ditambah 1 sendok teh soda kue, dan 1 set alat di tempat terang dengan ditutpi plastik merah yang tipis dan tembus pandang. Warna plastik dapat diganti dengan warna lain
7. Masukkan termometer untuk mengukur suhu tiap set alat
8. Amati perubahan yang terjadi pada ujung tabung reaksi dan hitung jumlah gelembung udara yang muncul dari tumbuhan Hydrilla verticillata
9. Pengamatan dilakukan selama masing-masing 10 menit, dan setiap 2 menit sekali catatlah hasil pengamatanmu pada tabel hasil pengamatan.
10. Ambil tabung reaksi dan segera masukkan lidi yang membara ke dalam tabung tersebut
D. Hasil Pengamatan dan Diskusi
1. Tabel hasil pengamatan :

Jumlah Gelembung
Tempat Terang Tempat Teduh Pakai Soda Kue Pakai Plastik
Suhu
Menit Ke-2
Menit ke-4
Menit Ke-6
Menit Ke-8
Menit Ke-10
Ket. Jumlah Gelembung udara : (–) tidak ada, (+) sedikit, (++) sedang, (+++) banyak, (++++) sangat banyak
2. Percobaan sachs
A. Tujuan
Membuktikan bahwa pada peristiwa fotosintesis akan terbentuk amilum (karbohidrat)
B. Alat dan Bahan
1. Daun yang masih ada pada tumbuhan
2. Aluminium foil / kertas hitam
3. Larutan yodium
4. Alkohol
5.Yodium
5. Gelas kimia
6. Tabung reaksi
7. Pinset
8. Pipet tetes
9. Cawan Petri
10. Lampu spiritus dan kaki tiga
C. Cara Kerja
1. Tutup sebagian daun pada tanaman dengan aluminium foil / kertas hitam
2. Setelah tiga hari petiklah daun tersebut dan rendam dalam air mendidih selama 10 detik, untuk mematikan sel-sel daun dan melunakkan dinding sel.
3. Masukkan daun ke tabung reaksi berisi alkohol, lalu letakkan tabung reaksi tersebut ke dalam wadah berisi air panas selama 10 menit, untuk melarutkan klorofil
4. Bilas daun dengan air untuk membuang alkohol, untuk melembutkan daun
5. Letakkan daun pada cawan petri, lalu tetesi dengan larutan yodium
6. Amati. Jika pada daun berwarna biru kehitaman berarti mengandung karbohidrat.

Kedua praktikum di atas merupakan kegiatan yang paling beresiko terhadap keselamatan alat dan juga keselamatan siswa. Disamping menggunakan banyak alat yang terbuat dari kaca, praktikum ini juga menggunakan alkohol yang dipanaskan di atas api. Pada percobaan ingenhous, alat yang berupa gelas kimia, corong kaca, tabung reaksi dan bahan Hydrilla harus di rangkai di bawah permukaan air sehingga harus dipastikan bahwa gelembung udara keluar dari rangkaian percobaan. Proses pembuatan rangkaian ini biasanya dilakukan di dalam bak mandi sekolah yang mempunyai persediaan air yang melimpah dan memungkinkan rangkaian tercelup total ke dalam air. Pada waktu alat kaca ini di bawa ke bak air inilah merupakan tahap yang paling rentan terjadi kecelakaan alat. Saat siswa keluar dari ruang praktikum biasanya menjadi lebih aktiv dan kurang berhati-hati, seperti kejadian yang pernah terjadi di SMP N 2 Selopampang beberapa tahun silam. Karena kekuranghatian siswa di bak air menyebabkan siswa terpeleset dan memecahkan alat yang dibawanya sehingga pelaksanaan praktikum menjadi terhambat.
Percobaan Sachs merupakan percobaan yang cukup berbahaya bagi siswa apabila tidak dilakukan dengan hati-hati dan menggunakan cara yang benar. Langkah pertama yaitu daun ditutup menggunakan aluminium foil dilakukan sendiri oleh siswa di rumah, selanjutnya daun yang akan diuji tersebut dibawa ke sekolah untuk dilihat kandungan karbohidratnya. Selanjutnya disusun alat seperti yang berada pada gambar di bawah :

1 2 3 4
Yang perlu mendapat perhatian khusus adalah langkah ke tiga dimana pada tahap ini terdapat alkohol yang dimasak di atas api. Alkohol merupakan zat yang sangat mudah terbakar untuk itu dalam memanaskannya harus dimasukkan ke dalam air dan harus dibiarkan sampai mendidih. Pada saat mendidih inilah daun yang telah lunak dimasukkan ke dalamnya hingga semua klorofil menjadi larut dan daunnya menjadi berwarna putih pucat. Perebusan daun dalam alkohol perlu mendapatkan perhatian khusus oleh guru, karenapada saat alkohol mendidih kadangkala alkoholnya bergolak dan meloncat sampai keluar dari tabung reaksi. Apabila semburan alkohol panas ini mengenai bagian tubuh siswa tentu saja akan menimbulkan munculnya luka bakar siswa tersebut. Lebih parah lagi kalau loncatan cairan alkohol ini mengenai bunsen yang berada di bawahnya maka api akan cepat membesar dan membakar segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
III. Alternatif penanganan masalah resiko praktikum fotosintesis

1. Pemberian penjelasan kepada siswa secara rinci hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam praktikum
2. Memberikan penjelasan pada siswa tentang resiko yang sering terjadi dalam kegiatan praktikum yang akan mereka lakukan.
3. Selalu mengingatkan siswa akan standart keselamatan kerja kegiatan di laboratorium
4. Apabila kecelakaan telah terjadi maka api harus segera dipadamkan dengan menggunakan pemadam kebakaran ataupun selimut khusus kebakaran.
5. Apabila loncatan alkohol mengenai kulit siswa makan harus segera dibasuh dengan air sebanyak-banyaknya agar tidak melepuh ataupun di berikan bioplacenton.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s