Laporan Sistem Penyimpan


I. PENDAHULUAN

Ilmu Pengetahuan Alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan, dan deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat dipercaya.Menurut Hungerford, Volk & Ramsey (1990:13-14) mengatakanbahwaSainsadalah (1) proses memperolehinformasimelaluimetodeempiris (empirical method); (2) Informasi yang diperolehmelaluipenyelidikan yang telahditatasecaralogisdansistematis; dan (3) suatukombinasi proses berpikirkritis yang menghasilkaninformasi yang dapatdipercayaatau valid.

Pada aspek biologi, IPA mengkaji berbagai persoalan yang berkait dengan berbagai fenomena pada makhluk hidup pada berbagai tingkat organisasi kehidupan dan interaksinya dengan faktor lingkungan, pada dimensi ruang dan waktu. Untuk aspek fisis, IPA memfokuskan diri pada benda tak hidup, mulai dari benda tak hidup yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari seperti air, tanah, udara, batuan dan logam, sampai dengan benda-benda di luar bumi dalam susunan tata surya dan sistem galaksi di alam semesta. Untuk aspek kimia, IPA mengkaji berbagai fenomena/gejala kimia baik pada makhluk hidup maupun pada benda tak hidup yang ada di alam semesta. Ketiga aspek tersebut, ialah aspek biologis (biotis), fisis, dan khemis, dikaji secara simultan sehingga menghasilkan konsep yang utuh yang menggambarkan konsep-konsep dalam bidang kajian IPA. Khusus untuk materi Bumi dan Antariksa dapat dikaji secara lebih dalam dari segi struktur maupun kejadiannya (BSNP, 2006).

Ada tiga kemampuan dalam IPA yaitu: (1) kemampuan untuk mengetahui apa yang diamati, (2) kemampuan untuk memprediksi apa yang belum diamati, dan kemampuan untuk menguji tindak lanjut hasil eksperimen, (3) dikembangkannya sikap ilmiah. Kegiatan pembelajaran IPA mencakup pengembangan kemampuan dalam mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, memahami jawaban, menyempurnakan jawaban tentang “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana” tentang gejala alam maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis yang akan diterapkan dalam lingkungan dan teknologi. Kegiatan tersebut dikenal dengan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode ilmiah. Metode ilmiah dalam mempelajari IPA itu sendiri telah diperkenalkan sejak abad ke-16 (Galileo Galilei dan Francis Bacon) yang meliputi mengidentifikasi masalah, menyusun hipotesa, memprediksi konsekuensi dari hipotesis, melakukan eksperimen untuk menguji prediksi, dan merumuskan hukum umum yang sederhana yang diorganisasikan dari hipotesis, prediksi, dan eksperimen.

Laboratorium dan jenis peralatannya merupakan sarana dan prasana penting untuk penunjang proses pembelajaran di sekolah. Dikemukakan pada PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 42 ayat (2) serta Pasal 43 ayat (1) dan ayat (2) bahwa:

1. Pasal 42 (2) :
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

2. Pasal 43
(1) Standar keragaman jenis peralatan laboratorium ilmu pengetahuan alam (IPA), laboratorium bahasa, laboratorium komputer, dan peralatan pembelajaran lain pada satuan pendidikan dinyatakan dalam daftar yang berisi jenis minimal peralatan yang harus tersedia.
(2) Standar jumlah peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan dalam rasio minimal jumlah peralatan perpeserta didik.

Dalam mengelola sebuah laboratorium tentu saja diperlukan sebuah sistem manajemen dan tenaga pengelola yang terlatih agar kegiatan laboratorium dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Makalah berikut akan menganalisis tentang sistem penyimpanan alat, penggunaan alat dan penyimpanan alat di Laboratorium IPA SMP N 2 Selopampang, Kabupaten Temanggung.

II. PEMBAHASAN

I. Tinjauan teoritis
Laboratorium IPA merupakan tempat siswa dan guru belajar menemukan dan memecahkan masalah IPA. Di Lab, siswa dan guru melakukan penyelidikan dengan pengamatan pengamatan objek-objekalam (gejala-gejala alam) dan atau percobaan-percobaan. Bentuk Laboratorium bisa berupa ruang tertutup (dirancang) maupun ruang terbuka (Lingkungan sekitar ; bentang alam).
Alat yang digunakan dalam kegiatan di laboratorium IPA memerlukan perlakuan khusus sesuai sifat dan karakteristik masing-masing. Perlakuan yang salah dalam membawa, menggunakan dan menyimpan alat di laboratorium IPA dapat menyebabkan kerusakan alat dan bahan, terjadinya kecelakaan kerja serta dapat menimbulkan penyakit.
Cara memperlakukan alat dan bahan di laboratorium IPA secara tepat dapat menentukan keberhasilan dan kelancaran kegiatan. Cara menyimpan alat laboratorium IPA dengan memperhatikan bahan pembuat alat tersebut, bobot alat, keterpakaiannya, serta sesuai pokok bahasannya. Penyimpanan alat menurut aturan tertentu harus disepakati antara pengelola laboratorium dan diketahui oleh pengguna/praktikan.
Untuk memudahkan dalam penyimpanan dan pengambilan kembali alat di laboratorium, maka sebaiknya dibuatkan daftar inventaris alat yang lengkap dengan kode dan jumlah masing-masing. Alat yang rusak atau pecah sebaiknya ditempatkan pada tempat tersendiri, dan dituliskan dalam buku kasus dan buku inventaris laboratorium IPA.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan alat yaitu :
1. Bahan dasar pembuatan alat
2. Bobot alat
3. Kepekaan alat terhadap lingkungan
4. Pengaruh alat yang lain
5. Kelengkapan perangkat alat dalam suatu set
Penataan dan penyimpanan alat / bahan didasarkan pada :
1. Keadaan laboratorium yang ditentukan oleh fasilitas, susunan laboratorium, dan keadaan alat/bahan.
2. Kepentingan pemakai ditentukan berdasarkan kemudahan dicari dan dicapai, keamanan dalam penyimpanan dan pengambilannya.

Dasar dari penyimpanan alat, yaitu :
1. Jenis Alat, misalnya gelas kimia, corong, cawan petri, lumpang dan alu
2. Jenis bahan pembuat, misalnya kaca, porselin, logam dan kayu
3. Percobaan, misalnya laju reaksi, kesetimbangan, dll
4. Seberapa sering alat digunakan
– Yang sering digunakan misalnya: gelas kimia
– Yang jarang digunakan misalnya: lumpang & alu

Penyimpanan alat dan bahan
– Alat-alat yang sering digunakan, alat yang boleh diambil sendiri oleh siswa dan alat- alat yang mahal harganya penyimpanannya dipisah
– Alat-alat untuk percobaan fisika biasanya dikumpulkan menurut golongan percobaannya
– Alat-alat yang digunakan untuk beberapa jenis percobaan disimpan tersendiri ditempat khusus.
– Alat-alat untuk percobaan biologi umumnya disimpan menurut judul percobaan atau dapat dilakukan berdasarkan atas bahan alat

Penggunaan dan pemeliharaan alat laboratorium IPA
Suatu laboratorium dengan peralatan yang lengkap tidak akan dapat berfungsi dengan baik jika tidak ditata dengan benar. Penataan yang proporsional akan memperlancar pelaksanaan kegiatan praktikum sehingga mencapai hasil sesuai harapan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan penataannya dalam laboratorium adalah :
a. Meja kerja siswa
Meja dan kursi kerja siswa sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga mempermudah pelaksanaan praktikum. Susunan dapat diubah setiap saat sesuai kebutuhan praktikum, jumlah kelompok, kebutuhan akan cahaya, arah konsentrasi siswa, dan hal lainnya.
b. Alat dan bahan praktikum
Alat dan bahan yang diperlukan untuk kegiatan praktikum disimpan dalam almari etalase yang diberi dibagi dalam blok-blok tertentu sesuai sifat alat dan bahan. Misalnya alat yang terbuat dari bahan kaca ditempatkan pada lokasi yang sama atau saling berdekatan. Untuk bahan cair ditempatkan pada lokasi lain bersama dengan bahan-bahan lain yang juga bersifat cair.
Selain berdasarkan sifat fisik bahan, penataan alat dan bahan juga disesuaikan dengan kesamaan fungsi penggunaan ketika pelaksanaan praktikum. Misalkan alat yang diperlukan untuk kegiatan penelitian struktur jaringan floem dan xylem, dimana alat yang dibutuhkan adalah mikroskop dan beberapa preparat yang sifat fisiknya jauh berbeda. Kedua alat ini tidak ditempatkan pada satu lokal yang sama, tetapi tetap berdekatan agar mudah dalam persiapannya.
c. Sarana penunjang lainnya
Selain meja kerja dan peralatan serta bahan praktikum, sarana penunjang seperti tirai, sumber listrik, sumber air dan wastafelnya juga perlu diperhatikan penataannya. Untuk penataan sarana dan prasarana biasanya direncanakan sebelum gedung laboratorium di bangun. Namun demikian ada kalanya perlu diadakan penataan ulang jika ternyata penataan awal kurang mendukung atau bahkan menghambat kelancaran dalam mengoperasikan fungsi laboratorium

II. Sistem penyimpanan, penggunaan dan pemeliharaan alat di SMP N 2 Selopampang

SMP N 2 Selopampang memiliki satu laboratorium yang menjadi ruangan untuk praktikum fisika dan praktikum biologi. Bangunan laboratorium ini didirikan baru sekitar tahun 2009 sehingga sampai saat ini kondisinya masih terlihat bagus dan kokoh. Peralatan yang dimiliki masih sangat sedikit sehingga penyimpanan alat dan barang masih dapat diatur dengan mudah.
Dalam laboratorium terdapat tiga buah lemari besar yang salah satu sisinya terbuat dari kaca, satu lemari terdapat di ruang praktikum yang besar serta dua lemari terdapat di dalam ruang penyimpanan alat. Di dalam lemari yang terdapat di ruang praktikum terdapat beberapa alat dan media pembelajaran buatan siswa seperti alat ayunan, insektarium dan herbarium. Selain itu, lemari ini juga sebgai tempat alat yang sering digunakan untuk praktikum seperti dan juga kaki tiga.
Dalam ruang penyimpanan terdapat dua buah lemari besar, keduanya diletakkan di satu sisi ruangan sehingga terdapat sisa ruang yang leluasa untuk mengambil alat. Dasar penyimpanan alat yang digunakan adalah berdasarakan mata pelajaran, lemari satu untuk menyimpan alat biologi serta yang lain untuk menyimpan alat fisika. Dalam penyusunannya dalam lemari diatur agar alat yang berukuran besar diletakkan di paling bawah serta peralatan yang terbuat dari kaca diletakkan di laci yang teratas. Untuk kit-kit fisika yang dimiliki diletakkan di antara lemari pertama dan lemari kedua.
Dalam ruang persiapan terdapat meja persiapan dan meja untuk laboran yang mempunyai satu unit komputer untuk membuat administrasi laboratorium. Diatas meja persiapan digunakan untuk menyiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam praktikum yang akan dilaksanakan oleh guru. Penggunaan alat laboratorium disesuaikan dengan jadwal praktikum yang dilaksanakan bergantian oleh guru fisika dan biologi. Peminjaman alat laboratorium dilakukan dengan mengisi administrasi tertentu yang telah disediakan oleh laboran.Beberapa administrasi yang dikelola laboratorium IPA SMP 2 Selopampang dipaparkan sebagai berikut.
1. Jurnal Praktikum
Jurnal praktikum adalah jurnal yang difungsikan untuk mencatat seluruh pelaksanaan praktikum di laboratorium IPA SMP 2 Selopampang. Jurnal praktikum berisi informasi : pembimbing praktikum, hari dan tanggal pelaksanaan praktikum, kelas praktik, jam pelajaran dilaksanakannya praktikum, materi praktikum, alat dan bahan yang digunakan, dan keterangan hasil pelaksanaan praktikum.
2. Kartu Praktikum
Kartu praktikum adalah sebuah lembaran kertas blangko yang difungsikan untuk mencatat seluruh pelaksanaan praktikum yang dilaksanakan oleh siswa, dan setiap siswa memiliki satu lembar kartu praktik. Kartu praktik berisi informasi mengenai : nama siswa, kelas, kelompok, anggota kelompok, judul praktikum, waktu pelaksanaan praktikum, waktu pengumpulan laporan praktikum, nilai praktik, dan paraf dari guru pembimbing. Pada sisi belakang kartu dicantumkan pula tata tertib praktikum dengan tujuan agar siswa selalu ingat bagaiama mereka seharusnya berperilaku ketika di dalam ruang laboratorium.
3. Buku Peminjaman Alat
Buku peminjaman alat adalah buku yang difungsikan untuk mencatat seluruh transaksi peminjaman alat yang dilakukan oleh guru atau siswa dengan kuasa dari guru pembimbingnya. Peminjaman dilaksanakan ketika dalam pembelajaran membutuhkan alat peraga, model, atau mungkin beberapa alat percobaan secara lengkap.
Khusus untuk peminjaman alat percobaan lengkap untuk di bawa ke kelas atau tempat dimana pembelajaran diselenggarakan diberlakukan hanya jika kegiatan praktikum sangat mendesak untuk dilaksanakan tetapi terkendala oleh benturan waktu penggunaan dengan kelas praktik yang lain. Faktor lainnya ialah jika kegiatan praktikum tidak mungkin dilaksanakan di dalam laboratorium melainkan harus langsung di lapangan, maka peminjaman alat lengkap diperbolehkan.
Buku peminjaman berisikan informasi mengenai : nama peminjam (bisa guru atau siswa dengan kuasa guru), nama alat yang dipinjam, dan transaksi (tanda tangan, tanggal peminjaman, dan tanggal pengembalian).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s