Proposal PTK KEEFEKTIFAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS KITA) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI EKOSISTEM PADA SISWA KELAS 7 SMPN 2 SELOPAMPANG TAHUN 2011-2012


Proposal PTK

KEEFEKTIFAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS KITA) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI EKOSISTEM PADA SISWA KELAS 7 SMPN 2 SELOPAMPANG TAHUN 2011-2012

logo_tut_wuri_handayani

Disusun Oleh :

DYAS AYU NUR ANGGRAENI, S.Si.

NIP. 19811104 200604 2 006

SMP NEGERI 2 SELOPAMPANG

DESA BAGUSAN KECAMATAN SELOPAMPANG

KABUPATEN TEMANGGUNG

HALAMAN PENGESAHAN

Proposal Penelitian Tindakan Kelas ( PTK)

1. Judul : KEEFEKTIFAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS KITA) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI EKOSISTEM PADA SISWA KELAS 7 SMPN 2 SELOPAMPANG TAHUN 2011-2012

2. Peneliti :

a. Nama           :   DYAS AYU NUR ANGGRAENI, S.Si.

b. NIP             :   19811104 200604 2 006

c. Guru            :   Mata Pelajaran IPA/Biologi

d. Instansi       :   SMP Negeri 2 Selopampang

3. Rencana Waktu Penelitian : 6 bulan ( Desember 2011 s/d Mei  2012)

4. Biaya yang dibutuhkan :  ± Rp. 1.000.000,-

Temanggung, 26 Desember 2011

Peneliti,

Dyas Ayu Nur Anggraeni, S.Si.

NIP. 19811104 200604 2 006

Mengetahui

Kepala SMP Negeri 2 Selopampang

Drs. Priyono

NIP. 19620203 198803 1 005

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Latar Belakang Masalah

Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi memberikan pengertian bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Saat ini pelaksanaan pembelajaran Biologi di SMP N 2 Selopampang masih didominasi oleh suatu kondisi kelas yang masih terfokus pada guru sebagai sumber utama dari pengetahuan. Ceramah masih menjadi pilihan utama guru dalam mengajar, sedangkan proses sains belum biasa dikembangkan dalam proses pembelajaran. Aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar masih kurang, siswa hanya menerima pengetahuan yang berasal dari guru saja. Siswa masih minimal sekali melakukan kegiatan yang melibatkan keterampilan dan kemampuan berpikir, ketika pelaksanaan pelajaran guru masuk kelas memberikan materi secara ceramah yang kadang kala menggunakan bantuan media  powerpoint. Proses pembelajaran yang monoton ini menyebabkan siswa menjadi pasif, tidak termotivasi dan minat terhadap pelajaran biologi rendah. Akibat selanjutnya prestasi belajar siswa menjadi tidak maksimal, nilai ulangan harian yang sering belum mencapai nilai KKM (7) sehingga harus melewati beberapa kali remidi untuk mencapai nilai KKM. Sementara itu prestasi rata-rata nilai ujian nasional untuk IPA masih pada level 6,75.

Proses pembelajaran di sekolah merupakan aspek yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan siswa. Proses pembelajaran yang menganut kaidah PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan) saat ini merupakan kaidah yang wajib dipahami guru dan dijalankan di dalam kelasnya. Adanya kemajuan ilmu pengetahuan yang begitu pesat di dunia saat ini juga juga akan berpengaruh pada pandangan siswa akan suatu materi atau pelajaran.  Perubahan ini harus segera di respon oleh guru dengan memberikan materi dengan cara yang inovatif. Salah satu alternatif pembelajaran yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pendekatan pembelajaran Jelajah Alam Sekitar (JAS).

Pendekatan pembelajaran JAS adalah salah satu inovasi pendekatan pembelajaran biologi dan maupun bagi kajian ilmu lain yang bercirikan memanfaatkan lingkungan sekitar dan simulasinya sebagai sumber belajar melalui kerja ilmiah, serta diikuti pelaksanaan belajar yang berpusat pada peserta didik. Belajar adalah kegiatan aktif peserta didik dalam membangun pemahaman atau makna. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran JAS memberi keleluasaan kepada peserta didik untuk membangun gagasan yang muncul dan berkembang setelah pembelajaran berakhir. Di sisi lain dengan pendekatan pembelajaran JAS tampak secara eksplisit bahwa tanggung jawab belajar berada pada peserta didik dan guru mempunyai tanggung jawab menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat.

  1. B.     Identifikasi masalah

Dari latar belakang di atas dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :

  1. Nilai prestasi hasil belajar siswa yang belum maksimal yang ditandai nilai rata-rata UN IPA yang masih rendah.
  2. Proses pembelajaran yang hanya menggunakan metode ceramah pengetahuan yang didapat siswa hanya berasal dari guru dan bersifat teacher centered.
  3. Penggunaan media pembelajaran yang belum optimal. Sebagian besar guru masih menggunakan media yang kurang bervariasi dan kurang menarik sehingga siswa merasa bosan dan tidak tertarik mengikuti pelajaran.
    1. Kemampuan guru mendesain dan pembelajaran yang menarik dan bermakna yang masih rendah sehingga kurang mampu menciptakan sebuah pengalaman belajar yang sesuai dengan keadaan siswa.
    2. Aktivitas siswa dalam pembelajaran yang cenderung pasif dalam menerima pengetahuan dari guru sehingga siswa tidak mampu membangun sebuah konsep yang utuh tentang materi yang sedang dibahas.
    3. Apabila siswa berhasil mendapatkan nilai yang baik belum tentu mampu membuat kaitan antara konsep yang didapatkan di kelas dengan kenyataan yang ada di lapangan atau keadaan lingkungan di sekitarnya.
  1. C.    Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, untuk menunjukkan peningkatan nilai  siswa dengan menggunakan metode Jelajah Alam Sekitar (JAS) Agar penelitian ini tidak terlalu luas dengan mempertimbangkan aspek tenaga, biaya dan keterbatasan peneliti maka perlu dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut:

  1. Nilai hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPA yang masih rendah
    1. Aktivitas siswa dalam pembelajaran yang cenderung pasif dalam menerima pengetahuan dari guru sehingga siswa tidak mampu membangun sebuah konsep yang utuh tentang materi ekosistem.

 

  1. D.      Perumusan masalah
    1. Apakah melalui metode Jelajah Alam Sekitar (JAS) dapat meningkatkan nilai hasil belajar IPA materi ekosistem pada siswa kelas 7 SMP N 2 Selopampang tahun 2011-2012.
    2. Apakah melalui metode Jelajah Alam Sekitar (JAS) dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA sehingga siswa mampu dengan sendiri membangun sebuah peta konsep tentang ekosistem
  1. E.       Tujuan Penelitian

Dengan menggunakan metode JAS siswa diharapkan dapat :

  1. Meningkatkan nilai hasil belajar IPAmateri ekosistem pada siswa kelas 7 SMP N 2 Selopampang tahun 2011-2012.
  2. Meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA sehingga siswa mampu dengan sendiri membangun sebuah peta konsep tentang ekosistem
  1. F.       Manfaat Penelitian
    1. Bagi siswa : mendapatkan proses pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna sehingga akhirnya bisa meningkatkan hasil belajar siswa
    2. Bagi guru : membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran tidak hanya berpusat pada guru dan hanya terfokus di dalam kelas saja.
    3. Bagi sekolah : memberikan dampak yang positif bukan hanya dalam hal peningkatan prestasi dalam kelas saja, namun juga kualitas pembelajaran secara umum.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN

 A.      KAJIAN TEORI

1.        IPA

a.      Hakikat IPA

Sains menurut Depdiknas (2004:3) adalah ilmu yang mempelajari fenomena-fenomena di alam semesta. Sains memperoleh kebenaran tentang fakta dan fenomena alam melalui kegiatan empirik yang dapat diperoleh melalui eksperimen laboratorium atau alam bebas. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Carin dan Sund (1985:4) “Science is the system of knowing about the universe through data collected by observation and controlled experimentation”. Sains adalah sebuah sistem pengetahuan tentang alam semesta melalui kumpulan data dari observasi atau eksperimen.

Collete dan Chiapetta (1994:30) menyatakan pendapatnya tentang sains, yaitu: “science should viewed as a way thinking in the pursuit of understanding nature, as the way investigation claim about phenomena, and as a body of knowledge that has resulted from inquiry”. Bahwa sains harus dipandang sebagai suatu cara berpikir dalam upaya memahami alam, sebagai suatu cara penyelidikan tentang gejala, dan sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang didapatkan dari proses penyelidikan. Sains disini adalah suatu cara berpikir dan cara penyelidikan untuk mencapai suatu ilmu pengetahuan tentang alam.

Dalam Trianto (2007:102), IPA adalah suatu kumpulan teori yang sistematis, penerapannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka, jujur dan sebagainya.  Lebih lanjut dinyatakan bahwa ada tiga kemampuan dalam IPA yaitu: 1) Kemampuan mengetahui yang diamati; 2) kemampuan memprediksi apa yang belum diamati dan kemampuan untuk menguji tindak lanjut dari hasil eksperimen dan; 3) dikembangkannya sikap ilmiah.

Sumaji, dkk (1998:31) menyatakan bahwa sains adalah suatu disiplin ilmu yang terdiri atas physical sciences dan life sciences. Termasuk dalam physical sciences adalah ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorologi, dan fisika, sedangkan life sciences meliputi biologi, zoologi dan fisiologi.

Menurut BSNP (2006:1), Karakteristik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dapat dilihat melalui dua aspek yaitu biologis dan fisis. Aspek biologis, mata pelajaran IPA mengkaji berbagai persoalan yang berkait dengan berbagai fenomena pada makhluk hidup pada berbagai tingkat organisasi kehidupan dan interaksinya dengan faktor lingkungan, pada dimensi ruang dan waktu. Untuk aspek fisis, IPA memfokuskan diri pada benda tak hidup, mulai dari benda tak hidup yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari seperti air, tanah, udara, batuan dan logam, sampai dengan benda-benda di luar bumi dalam susunan tata surya dan sistem galaksi di alam semesta.

Masih menurut BSNP (2006:1), untuk aspek kimia, IPA mengkaji berbagai fenomena/gejala kimia baik pada makhluk hidup maupun pada benda tak hidup yang ada di alam semesta. Ketiga aspek tersebut, ialah aspek biologis (biotis), fisis, dan  khemis, dikaji secara simultan sehingga menghasilkan konsep yang utuh yang menggambarkan konsep-konsep dalam bidang kajian IPA. Khusus untuk materi Bumi dan Antariksa dapat dikaji secara lebih dalam dari segi struktur maupun kejadiannya.

Dalam penerapannya, IPA juga memiliki peranan penting dalam perkembangan peradaban manusia, baik dalam hal manusia mengembangkan berbagai teknologi yang dipakai untuk menunjang kehidupannya, maupun dalam hal menerapkan konsep IPA dalam kehidupan bermasyarakat, baik aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan. Oleh karena itu, struktur IPA juga tidak dapat dilepaskan dari peranan IPA dalam hal tersebut.

Osborne dan Dillon (2008) menyatakan “…that the primary goal of science education cannot be simply to produce the next generation of scientist.”  Bahwa tujuan utama dari pendidikan IPA tak hanya sesederhana memproduksi generasi ilmuan di masa yang akan datang saja. Lebih lanjut dikemukakan “ … and that this needs to be an education that will develop an understanding of the major explanatory themes that science has to offer and contribute to their ability to engage critically with science in their future lives.” Yang secara singkat berarti ilmu pengetahuan ini dibutuhkan untuk mengembangkan pengertian anak tentang berbagai penjelasan peristiwa di alam dan juga memberikan kontribusi terhadap kemampuan anak di masa yang akan datang.

Hakikat IPA yang dinyatakan oleh Sulistyorini (2007:9) dapat dipandang dari segi produk, proses dan pengembangan sikap. Artinya, belajar IPA memiliki dimensi proses, dimensi hasil (produk) dan dimensi pengembangan sikap ilmiah. Ketiga dimensi tersebut bersifat saling terkait. Ini berarti proses belajar mengajar IPA seharusnya mengandung ketiga dimensi tersebut.

Sedangkan hakikat IPA menurut Depdiknas (2006) meliputi empat unsur utama yaitu:

  1. Sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA bersifat open ended;
  2. Proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan;
  3. Produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum;
  4. Aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan Keempat unsur itu merupakan ciri IPA yang utuh yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Secara umum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP/MTs, meliputi bidang kajian energi dan perubahannya, bumi antariksa, makhluk hidup dan proses kehidupan, dan materi dan sifatnya yang sebenarnya sangat berperan dalam membantu peserta didik untuk memahami fenomena alam. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah mengalami uji kebenaran melalui metode ilmiah, dengan ciri: objektif, metodik, sistematis, universal, dan tentatif.

Kesimpulan dari beberapa definisi diatas bahwa IPA adalah sebuah proses memperoleh kebenaran tentang fakta dan fenomena alam yang meliputi aspek biologi, fisis dan khemis. Sedangkan hakikat IPA dapat dipandang sebagai sikap, proses, produk serta aplikasi pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari yang keseluruhannya saling terkait secara erat.

b.      Karakteristik IPA

Ilmu Pengetahuan Alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan, dan deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat dipercaya. Ada tiga kemampuan dalam IPA yaitu: (1) kemampuan untuk mengetahui apa yang diamati; (2) kemampuan untuk memprediksi apa yang belum diamati, dan kemampuan untuk menguji tindak lanjut hasil eksperimen; (3) dikembangkannya sikap ilmiah.

Kegiatan pembelajaran IPA mencakup pengembangan kemampuan dalam mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, memahami jawaban, menyempurnakan jawaban tentang “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana” tentang gejala alam maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis yang akan diterapkan dalam lingkungan dan teknologi.  Kegiatan tersebut dikenal dengan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode ilmiah.  Metode ilmiah dalam mempelajari IPA itu sendiri telah diperkenalkan sejak abad ke-16 (Galileo Galilei dan Francis Bacon) yang meliputi mengidentifikasi masalah, menyusun hipotesa, memprediksi konsekuensi dari hipotesis, melakukan eksperimen untuk menguji prediksi, dan merumuskan hukum umum yang sederhana yang diorganisasikan dari hipotesis, prediksi, dan eksperimen (www.puskur.net)

2.        Pembelajaran

a.        Pengertian Pembelajaran

Teori belajar mengkaji kejadian belajar dalam diri seseorang, sedangkan teori pembelajaran adalah faktor eksternal yang memfasilitasi proses belajar. Teori pembelajaran bersifat perspektif, menyarankan bagaimana sebaiknya proses belajar diselenggarakan. Teori belajar bersifat deskriptif atau menjelaskan bagaimana proses belajar terjadi dalam diri seseorang (Prawiradilaga, 2008: 22).

Pembelajaran  sering juga disebut dengan belajar mengajar sebagai terjemahan dari istilah “instructional” yang terdiri atas dua kata yaitu belajar dan mengajar. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Hal ini sesuai dengan pendapat Woolfolk dan Nicolich (1984:154) “Learning is a change in the person that comes about as a result of experience” Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain aspek yang ada dalam individu (Sujana, 2004: 28).

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. (Hamalik, 2007 : 57). Pembelajaran bisa juga diartikan sebagai kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Penyelenggaraan pembelajaran merupakan salah satu tugas utama guru, dimana pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa agar siswa dapat belajar dengan lebih aktif (Dimyati dan Mudjiono, 2002 : 113 ).

Menurut Sagala (2007: 63) pembelajaran mempunyai dua karakteristik yaitu Pertama, dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal, bukan hanya menuntut siswa untuk sekedar mendengar, mencatatkan tetapi menghendaki aktivitas siswa dalam proses berpikir. Kedua, dalam pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa, yang pada gilirannya kemampuan berpikir itu akan dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri.

Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses belajar yang dibangun oleh guru ini diharapkan mampu membangun karakteristik mental siswa dan juga keaktifan siswa dalam memperoleh pengetahuan yang mereka butuhkan.

b.      Pembelajaran IPA

Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi memberikan pengertian bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Dalam belajar IPA peserta didik diarahkan untuk membandingkan hasil prediksi peserta didik dengan teori  melalui eksperimen dengan menggunakan metode ilmiah. Pendidikan IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, yang didasarkan pada metode ilmiah.  Pembelajaran IPA menekankan pada pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik mampu memahami alam sekitar melalui proses “mencari tahu” dan “berbuat”, hal ini akan membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.

Keterampilan dalam mencari tahu atau berbuat tersebut dinamakan dengan keterampilan proses penyelidikan atau “inquiry skills” yang meliputi mengamati, mengukur, menggolongkan, mengajukan pertanyaan, menyusun hipotesis, merencanakan eksperimen untuk menjawab pertanyaan, mengklasifikasikan,  mengolah, dan menganalisis data, menerapkan ide pada situasi baru, menggunakan peralatan sederhana serta mengkomunikasikan informasi dalam berbagai cara, yaitu dengan gambar, lisan, tulisan, dan sebagainya.  Melalui keterampilan proses dikembangkan sikap dan nilai yang meliputi rasa ingin tahu, jujur, sabar, terbuka, tidak percaya tahyul, kritis, tekun, ulet, cermat, disiplin, peduli terhadap lingkungan, memperhatikan keselamatan kerja, dan bekerja sama dengan orang lain.

Oleh karena itu pembelajaran IPA  di sekolah sebaiknya: (1) memberikan pengalaman pada peserta didik sehingga mereka kompeten melakukan pengukuran berbagai besaran fisis; (2)  menanamkan pada peserta didik pentingnya pengamatan empiris dalam menguji suatu pernyataan ilmiah (hipotesis). Hipotesis ini dapat berasal dari pengamatan terhadap kejadian sehari-hari yang memerlukan pembuktian secara ilmiah; (3) latihan berpikir kuantitatif yang mendukung kegiatan belajar matematika, yaitu sebagai penerapan matematika pada masalah-masalah nyata yang berkaitan dengan peristiwa alam;  (4) memperkenalkan dunia teknologi melalui kegiatan kreatif dalam kegiatan perancangan dan pembuatan alat-alat sederhana maupun penjelasan berbagai gejala dan keampuhan IPA dalam menjawab berbagai masalah.

c.  Hasil belajar IPA

Pengertian hasil belajar  adalah kemampuan–kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dalam proses pembelajaran, hasil belajar ditentukan melalui proses penilaian  dan evaluasi. Adapun tujuan diadakannya penelitian adalah untuk menentukan tercapai tidaknya tujuan pembelajaran. Pada dasarnya penilaian atau evaluasi merupakan suatu tindakan memberikan pertimbangan, harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Hasil dari tindakan penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. (Sudjana, 1989 : 11).

Proses penilaian hasil belajar menjadikan hasil belajar sebagai suatu objek sasaran penilaian meruapakan suatu tindakan menilai penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran. Dikatakan demikian karena  didalam rumusan tujuan pembelajaran menggambarkan hasil belajar yang harus dikuasai siswa, yaitu berupa kemampuan- kemampuan siswa setelah menerima atau menyelesaikan pengalaman belajarnya.  Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai siswa dalam kegiatan pembelajaran melalui tindakan penilaian/evaluasi.

3.      Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS)

JAS (Jelajah Alam Sekitar) sebagai suatu metode memiliki karakter menyenangkan, terekspresi secara eksklusif dalam istilah bioedutainment (asal kata bio = biology, edu = education, tainment = intertainment ), yakni merupakan strategi pembelajaran biologi yang menghibur dan menyenangkan melibatkan unsur ilmu atau sains, proses penemuan ilmu (inkuari), ketrampilan berkarya, kerjasama, permainan yang mendidik, kompetisi, tantangan dan sportivitas (Mulyani, 2008).

Dipilihnya pendekatan JAS sebagai pendekatan pembelajaran yang dianggap mampu menciptakan siswa yang produktif dan inovatif dengan alasan-alasan sebagai berikut:

  1. Selama ini pembelajaran biologi masih didominasi oleh suatu kondisi kelas yang berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. Ceramah masih menjadi pilihan utama guru dalam mengajar, proses sains belum biasa dikembangkan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran masih menekankan pada hasil belajar dan bukan pada kegiatan atau proses untuk menguasai konsep. Untuk itu perlu dipilih suatu pendekatan yang lebih memberdayakan siswa, yang tidak mengharuskan siswa menghafalkan fakta-fakta tetapi dapat mendorong siswa mengkonstruksikan fakta-fakta pengetahuan yang dia peroleh berdasarkan konsep atau prinsip biologi melalui proses eksplorasi dan investigasi.
  2. Pendekatan pembelajaran JAS mengutamakan siswa belajar dari mengalami dan menemukan sendiri dengan memanfaatkan lingkungan fisik, sosial, budaya yang ada di sekitarnya.
  3. Tuntutan kurikulum bahwa hasil belajar peserta didik berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik menuntut suatu pembelajaran yang menekankan pada keaktifan peserta didik secara fisik, mental, intelektual, dan emosional.

Komponen – komponen JAS terdiri dari :

1. Eksplorasi

Dengan melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya, seseorang akan berinteraksi dengan fakta yang ada di lingkungannya sehingga menemukan pengalaman dan sesuatu yang ada di lingkungan sehingga menemukan pengalaman dan sesuatu yang menimbulkan pertanyaan atau masalah. Dengan adanya masalah manusia akan melakukan kegiatan berpikir atau mencari pemecahan masalah ( Suriasumantri dalam Mulyani, 2008).

2.  Konstruktivisme

Dalam pembentukan pengetahuan menurut Piaget terdapat dua aspek berpikir yaitu aspek figurative dan aspek operatif. Berpikir operatif memungkinkan sesorang untuk mengembangkan pengetahuannya dari suatu level tertentu ke level yang lebih tinggi.

3. Proses sains

Proses kegiatan ilmiah dimulai ketika seseorang malakukan pengamatan. Dari sini akan menimbulkan pertanyaan atau permasalahan. Permasalahan ini akan mendapatkan pemecahan dengan melakukan metode ilmiah, atau membandingkannya dengan teori yang telah diperoleh sebelumnya.

4. Masyarakat belajar

Konsep learning community menyerankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil diperoleh dari sharing antar teman, kelompok. Dalam praktek pembelajaran di kelas , masyarakat belajar terwujud dalam :

  • Pembentukan kelompok kecil
  • Pembentukan kelompok besar
  • Mendatangkan ‘ahli’ ke dalam kelas
  • Bekerja dengan kelas sederajat
  • Bekerja dengan masyarakat

Bioedutainment

Bioedutainment dalam pendekatannya melibatkan unsur utama ilmu dan penemuan ilmu, ketrampilan berkarya, kerjasama, permainan yang mendidik, kompetisi, tantangan dan sportivitas dapat menjadi salah satu solusi dalam menyikapi perkembangan biologi saat ini dan masa yang akan datang. Dengan bioedutainment semua aspek dapat teramati.

  1. 6.    Assesment autentik

Pengumpulan data yang bisa menggambarkan perkembangan belajar siswa dapat digunakan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa sehingga dapat digunakan untuk mengambil tindakan segera dan tepat. Karakter penilaian autentik adalah :

  • Dilaksanakan selama dan sesuadah proses pembelajaran
  • Dapat digunakan untuk formatif maupun sumatif
  • Mengukur ketrampilan dan performasi
  • Berkesinambungan
  • Terintegrasi
  • Dapat digunakan sebagai umpan balik

Menurut Ridlo (2005) kegiatan penjelajahan merupakan suatu strategi alternatif dalam pembelajaran biologi. Kegiatan ini mengajak peserta didik aktif mengeksplorasi lingkungan sekitarnya untuk mencapai kecakapan kognitif , afektif dan psikomotorik sehingga memiliki penguasaan ilmu dan ketrampilan, penguasaan berkarya, penguasaan menyikapi dan penguasaan bermasyarakat. Pendekatan JAS dapat didefinisikan sebagai pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan alam sekitar kahidupan peserta didik baik lingkungan fisik, sosial, teknologi, maupun budaya sebagai obyek belajar biologi yang fenomenanya dipelajari melalui kerja ilmiah (Marianti dan Kartijono, 2005).

Yang menjadi penciri JAS, menurut Santosa dalam Marianti (2006)adalah :

  1. selalu dikaitkan dengan alam sekitar secara langsung maupun tidak langsung yaitu dengan menggunakan media.
  2. selalu ada kegiatan berupa prediksi, pengamatan dan penjelasan.
  3. ada laporan untuk dikomunikasikan baik secara lisan, tulisan, atau gambar, foto atau audiovisual.
  4. kegiatan dirancang dengan menyenangkan sehingga menimbulkan minat untuk belajar lebih lanjut.

 

Learning science is something that student do,actively,not something that is done to them. Slogan The National Standard ini mengandung makna bahwa dalam belajar sains, seharusnya siswa diajak secara aktif untuk mengenal obyek, gejala dan persoalan alam menelaah, dan menemukan simpulan atau konsep-konsep tentang alam. Jadi idealnya dalam pembelajaran sains, konsep-konsep sains bukan diperoleh siswa secara instan dari guru ataupun buku, melainkan melalui kegiatan-kegiatan ilmiah. Hal ini dengan kata lain, penilaian untuk pembelajaran sains harus mencakup ranah psikomotorik, kognitif dan afektif. Belajar adalah proses perubahan dari tidak tahu menjadi tahu. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar ( Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional)

Dari hasil kajian teori di atas maka penulis berpendapat sangatlah tepat jika metode JAS diterapkan pada materi ekosistem yang menuntut eksplorasi terhadap alam sekitar dimana siswa akan banyak memperoleh penanaman konsep serta penerapannya secara langsung di lapangan.

  1. B.       KERANGKA BERPIKIR

Kondisi awal

Guru :

belum menggunakan pendekatan JAS dalam pembelajaran

Siswa :

–      Aktivitas rendah dan pasif

–      Nilai hasil belajar rendah

TINDAKAN

Menggunakan pendekatan JAS dalam pembelajaran

SIKLUS 1

Menggunakan pendekatan JAS dalam pembelajaran kelompok kecil

SIKLUS 2

Menggunakan pendekatan JAS dalam pembelajaran kelompok kecil dilanjutkan dengan diskusi kelas

Kondisi akhir

Diduga dengan menggunakan pendekatan JAS dapat meningkatkan aktivitas dan nilai hasil belajar IPA materi Ekosistem pada siswa kelas 7 SMP N 2 Selopampang tahun pelajaran 2011-2012

  1. C.      HIPOTESIS TINDAKAN

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut :

Melalui pendekatan pembelajaran JAS (Jelajah Alam Sekitar) diduga akan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA materi Ekosistem pada siswa kelas 7 SMP Negeri 2 Selopampang tahun pelajaran 2011-2012.

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. A.      SETTING PENELITIAN
    1. Waktu penelitian

Alokasi waktu persiapan, pelaksanaan penelitian serta penulisan hasil akhir dapat dilihat pada tabel berikut ini :

NO Uraian Kegiatan Des-11 Jan- 12 Feb-12 Mar-12 Apr-12 Mei-12
1 Menyusun proposal PTK    vv vv
2 Menyusun instrumen Penelitian    vv
3 Pengumpulan data dengan melakukan tindakan
a. Siklus 1         v vv
b. Siklus 2                     vv v
4 Analisis data    vvv
5 Pembahasan/ diskusi vv
6 Menyusun laporan hasil penelitian         vv vvvv

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada semester genap karena menyesuaikan dengan materi yang diambil. Sedangkan pelaksanaan siklus 1 dan 2 dilaksanakan pada bulan februari- maret dengan pertimbangan waktu tersebut tidak mengganggu jadwal UTS ataupun jadwal Ujian Nasional.

  1. Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan di lingkungan SMP N 2 Selopampang kelas 7 dengan menggunakan tempat penelitian di taman sekolah, persawahan belakang sekolah serta sungai kecil di samping sekolah. Selanjutnya hasil praktikum di presentasikan di dalam kelas.

  1. B.       SUBJEK PENELITIAN
    1. Peneliti

Peneliti adalah guru mapel IPA di kelas 7 pada tahun 2011-2012

  1. Objek penelitian

Obyek penelitian ini adalah siswa kelas 7A SMP N  2 Selopampang tahun pelajaran 2011-2012

  1. Variabel penelitian

Variabel dalam penelitian ini terdiri atas variabel hasil belajar siswa pada siswa kelas 7 SMP N 2 Selopampang dan aktifitas siswa sebagai variabel y dan variabel penggunaan pendekatan belajar JAS sebagai variabel X.

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 7 semester 2 SMP N 2 Selopampang Kabupaten Temanggung tahun pelajaran 2011-2012.

  1. C.      SUMBER DATA

Data dalam penelitian ini dibagi menjadi data primer dan data sekunder. Data primer diambil dari subjek penelitian yaitu siswa kelas 7 SMP N 2 Selopampang yang berupa nilai ulangan harian, tes siklus 1, tes akhir siklus 2, post test, nilai kinerja siswa dan skor angket aktivitas siswa. Sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil observasi guru kolaborator atau kepala sekolah.

  1. D.      TEKNIK DAN ALAT PENGUMPULAN DATA
    1. Teknik Pengumpulan data

Proses pengumpulan data menggunakan teknik tes dan non tes. Teknik test yang dimaksud adalah menggunakan test tertulis dan test unjuk kerja. Sedangkan teknik nontes digunakan untuk mengamati aktivitas siswa berupa kuesioner, observasi dan dokumentasi.

  1. Alat Pengumpulan data

Data yang berupa test dikumpulkan dengan menggunakan alat butir soal test yang telah dibuat sebelumnya. Data aktivitas siswa diperoleh menggunakan angket aktivitas siswa yang telah dibuat sebelumnya serta menggunakan pedoman dan lembar observasi siswa. Setiap kegiatan juga didokumentasi dalam bentuk foto kegiatan siswa dan guru.

  1. Perangkat RPP
  2. Instrumen evaluasi tes essay or uraian
  3. Instrumen observasi

 

  1. E.       ANALISIS DATA
    1. Data test

Analisis data test dilakukan dengan cara deskriptif komparatif yaitu membandingkan antara hasil belajar awal, hasil belajar siklus 1 dan siklus 2. Selanjutnya dari hasilnya di refleksikan untuk menarik simpulan berdasarkan deskriptif komparatif, membuat ulasan berdasarkan kesimpulan dan menentukan tindak lanjut.

  1. Data nontest

Data nontes yang berupa hasil observasi dan angket dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan menggunakan kategori skor yang telah ditentukan sebelumnya. Selanjutnya dibandingkan antara kondisi awal, setelah siklus 1 dan setelah siklus 2.

 

  1. F.       INDIKATOR KINERJA

Penelitian ini dikatakan berhasil apabila setelah melakukan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) ini diharapkan nilai rata-rata hasil belajar siswa dapat berada diatas Kriteria Ketuntasan Minimal mata pelajaran IPA SMP N 2 Selopampang yaitu diatas 7.00. Selain itu diharapkan terjadinya perubahan perilaku siswa yang tadinya cenderung pasif dalam menerima pelajaran menjadi lebih aktif dan bersemangat dalam belajar.

  1. G.      PROSEDUR TINDAKAN

SIKLUS 1

  1. Perencanaan tindakan

Dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan dimulai dari: (1) menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menggunakan Metode Jelajah Alam Sekitar Kita (JAS Kita); (2) merancang dan membuat alat bantu pembelajaran di lapangan; (3) menyiapkan pembentukan kelompok yang heterogen berdasarkan nilai ulangan blok sebelumnya (4) Menyusun perangkat tes untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa; dan (5) menyusun perangkat monitoring pelaksanaan tindakan untuk mengetahui aktivitas guru dalam pembelajaran, aktivitas siswa, dan suasana pembelajaran.

  1. Pelaksanaan tindakan

Pada Tahap ini merupakan tahap awal pelaksanaan tindakan perbaikan yang terhitung sebagai siklus pertama. Langkah-langkah pelaksanaan tindakan pada siklus satu ini adalah :

  1. Pendahuluan

–          Berdoa

–          Mengecek kehadiran peserta didik

–          Menanyakan kabar peserta didik – dengan fokus pada mereka yang tidak datang dan/atau yang pada pertemuan sebelumnya tidak datang

–          Apersepsi: Meminta peserta didik menyebutkan benda apa saja yang dapat diamati di kebun sekolah!

–          Motivasi:

–          Peserta didik diminta untuk memikirkan apakah  benda-benda yang terdapat di kebun tersebut memiliki keterkaitan, kemudian peserta didik diminta merumuskan dugaan keterkaitan antar benda-benda tersebut.

–          Guru menginformasikan tujuan pembelajaran.

  1. Kegiatan inti

–          Peserta didik membagi diri dalam  kelompok, setiap kelompok maksimal beranggota 5 peserta didik.

–          Semua peserta didik  ke kebun sekolah atau contoh ekosistem yang lain yang berada di sekitar sekolah, untuk mengamati secara cermat dan teliti, benda apa saja yang ditemukan.

–          peserta didik  memasukkan hasil pengamatan ke dalam tabel pengamatan.

–          Setiap kelompok membuat laporan hasil pengamatan secara jujur.

–          Setiap kelompok mempresentasikan hasil pengamatannya di depan kelas dan kelompok lain memberikan tanggapan untuk menemukan kesepakatan bersama tentang konsep ekosistem dan satuan-satuan penyusunnya, yaitu komponen biotik dan abiotik, produsen, konsumen, pengurai, substrat dasar, dan sumber energi.

–          Guru memberikan konfirmasi untuk penguatan dan atau perbaikan  tentang materi yang telah didiskusikan.

  1. Penutup

–          Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi pelajaran

–          Penilaian

–          Refleksi :  Peserta didik mengungkapkan kesan terhadap pengertian bahwa setiap benda memiliki peran dalam ekosistem

–          Guru menginformasikan kepada peserta didik bahwa pertemuan berikutnya akan mempelajari macam-macam ekosistem yang spesifik dan satuan-satuan penyusunnya, serta memberi tugas kepada setiap kelompok untuk mengamatai satu ekosistem spesifik yang ada di sekitarnya, untuk dipresentasikan pada pertemuan berikutnya

–          Berdoa

–          Menutup pelajaran dengan tertib pada waktunya

  1. Observasi Tindakan

Pada tahap observasi dilakukan pengamatan terhadap tindakan kelas yang dilakukan peneliti dengan mengunakan perangkat monitoring untuk guru dan perangkat evaluasi untuk guru dan siswa. Pengamatan pelaksanaaan tindakan adalah rekan guru yang lain sebagai kolaborator penelitian. Kegiatan yang diamati adalah:

  1. Kinerja guru

Pengamatan dilakukan menggunakan lembaran observasi kinerja guru oleh guru kolaborator.

  1. Aktivitas siswa

Pengamatan aktivitas siswa dilakukan menggunakan lembar observasi siswa dan pedoman observasi.

  1. Analisis dan refleksi

Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap hasil penilaian dan observasi tindakan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaan siklus 1. Tahap ini  bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan pemahaman siswa dan aktivitas siswa dari hasil peneltian siklus 1 dibandingkan dengan data awal.

   SIKLUS 2

 

Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti melakukan refleksi awal, merumuskan permasalahan dan merencanakan tindakan yang meliputi rancangan strategis dalam penyampaian dan pengelolaan pembelajaran kooperatif  tipe STAD. Pada tahap ini juga dikembangkan strategi pembelajaran, instrumen pengumpul data berupa lembar pengamatan perangkat tes hasil belajar serta menyusun rencana pengolahan data.

b). Tahap pelaksanaan Tindakan

Pada tahap ini peneliti melaksanakan skenario tindakan yang telah direncanakan serta melakukan pengamatan selama kegiatan pembelajaran berlangsungsesuai dengan jadwal penelitian. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan  oleh tim dengan menggunakan instrumen pengamatan, serta melakukan evaluasi dan refleksi selama pelaksanaan tindakan ditujukan untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam pembelajaran berikutnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

BSNP. (2006). Contoh/model silabus mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Badan Standar Nasional pendidikan.

Carin, A.A. & Sund, R.B. (1985). Teaching science through discovery (5th ed). Ohio : A Bell & Howell Company.

Collete, A.T. & Chiapetta, E.L. (1994). Science instruction in the middle and secondary school. (third edition). New York: Macmillan Publishing Company.

Depdiknas. (2004). Pedoman khusus pengembangan silabus berbasis kompetensi SMP mata pelajaran Pengetahuan Alam. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. (2006). Panduan pengembangan pembelajaran IPA terpadu, Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTS). Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.

Depdiknas. (2006a). Permendiknas No. 22, Tahun 2006, tentang Standar Isi. Jakarta: Depdiknas.

Dimyati dan Mudjiono. (2002). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Marianti, A dan N/E. Kartijono. 2005. Jelajah Alam Sekitar (JAS) Dipresentasikan pada Seminar dan Lokakarya Pengembangna Kurikulum dan Desain Inovasi Pembelajaran. Semarang : Jurusan Biologi FMIPA UNNES

Mulyani, Sri.E.S.Prof.Dr. M.Pd, dkk. 2008. Jelajah Alam Sekitar (JAS) Pendekatan Pembelajaran Biologi. Semarang : Jurusan Biologi FMIPA UNNES

Nana Sudjana. (2004). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Osborne, J. & Dillon, J. (2008). Science education in Europe: Critical reflection. A Report to the Nuffield Foundation. London: King’s College.

Ridlo.S, 2005 Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) Dipresentasikan pada Seminar dan Lokakarya Pengembangna Kurikulum dan Desain Inovasi Pembelajaran. Semarang : Jurusan Biologi FMIPA UNNES

Sri Sulistyorini. (2007). Model pembelajaran IPA sekolah dasar dan penerapannya dalam KTSP. FIP PGSD Universitas Negeri Semarang.

Sumaji,  dkk. (1998). Pendidikan sains yang humanistis. Yogyakarta: Penerbit kanisius.

Trianto. (2007). Model pembelajaran terpadu dalam teori dan praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s